SIFAT SHOLAT NABI
Oleh
Muhammad
Nashiruddin Al-Albani
LATAR BELAKANG PENULISAN
Saya tidak pernah menemukan kitab yang membahas seluruh tema ini. Karena
itu saya berkewajiban untuk menyusun sebuah buku yang mencakup semua yang
berkaitan dengan sifat shalat Nabi sallalloohu ‘alaihi wa sallam sejak dari
takbir hingga salam untuk ikhwan-ikhwan umat Islam yang selalu berkeinginan
meneladaini petunjuk Nabinya dalam beribadah. Sehingga mempermudah mereka
melaksanakan perintah Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam sebagaimana
yang disabdakan ”Sholatlah sebagaimana
kalian melihat aku melakukan shalat”
Atas dasar inilah, saya berusaha keras menelusuri hadits-hadits yang
berkaitan dengan tujuan ini di berbagai kitab hadits, yang diantarnya adalah
buku yang sedang di tangan anda ini.
Dalam penulisan buku ini saya telah menetapkan sebuah aturan agar tidak
menggunakan hadits-hadits Nabi sebagai dalil kecuali yang sanadnya kuat, sesuai
dengan kaidah dan prinsip-prinsip ilmu hadits. Disamping itu saya juga
mencapakkan setiap hadits majhul atau dhaif berkenaan dengan tata cara shalat,
zikir, keutamaan-keutamaan dan lain sebagainya. Karena saya yakin bahwa setiap
hadits yang kuat sudah cukup dari pada yang dhaif karena yang dhaif itu tidak
ada gunanya – tanpa ada perselisihan diatara ahli hadits – kecuali hanya
prasangka. Sedangkan keyakinan yang bersumber dari prasangka adalah sebagaimana
halnya firman Alloh dalam Qur’an surat an-Najm ayat 28 : ”Persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran.”
Juga Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda ”Janganlah sekali-kali berprasangka karena persangkaan itu adalah
perkataan yang paling dusta” (HR. Bukhari dan Muslim).
Langkah semacam ini tidak dapat ditempuh untukberibadah kepada Alloh.
Bahkan dengan tegas Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam melarangnya
sebagaimana disabdakan ”Berhati-hatilah
kamu sekalian akan hadits kecuali yang telah kamu ketahui” (HR. Tirmidzi,
Ahmad & Ibnu Abi Syaibah). Oleh karenanya meriwayatkan hadits dhaif tidak
dibolehkan apalagi bila untuk diamalkan.
Demikian buku ini saya susun dalam dua alur, atas dan bawah. Alur pertama, seperti matan hadits atau
struktur yang serupa yang saya susun pada tempat yang layak dan tersusun secara
serasi, dari awal hingga terakhir. Saya tetap menjaga lafal teks hadits yang
terdapat pada kitab-kitab sunnah. Kadang-kadang sebuah hadits lafalnya
berbeda-beda dan saya memilih salah satu lafal untuk alasan penyusunan.
Terkadang saya menambahkan dengan lafal yang lain dan aku beri tanda dengan
kata-kata ”Dalam suatu lafal : demikian, demikian”. Atau ”Dalam sebuah riwayat
: Demikian, demikian”. Dalam penulisan riwayatpun jarang dinisbatkan kepada
sahabat. Tidak pula saya jelaskan perawi-perawinya dikalangan imam hadits
untktuk mempermudah bacaan dan rujukan.
Alur kedua, berupa syarah, penjelasan matan sebelumnya. Dalam hal ini saya telah
mentakhrij hadits-hadits yang terdapat pada alur atas, dengan mengemukakan
lafalnya, alur riwayatmua disertai dengan uraian sanad, syahid-syahid jarah dan
ta’dil, sahih dan dha’ifnya sesuai dengan kaidah-kaidah dalam ilmu hadits.
Sering kali ditemukan pada sebagain riwayat, lafal-lafal yang berbeda atau
tambahan-tambahan yang tidak terdapat riwayat jalur yang lain. Lalu, saya
tambahkan kepada hadits yang tertera pada jalur atas. Itupun dilakukan bila
serasi dengan hadits yang asli.
Kemudian saya beri tanda dalam kurung dengan garis lurus seperti ini [ ],
tanpa mencantumkan perawi yang telah meriwayatkan sendirian yang asli. Itupun
kalau sumber hadits dan rawinya diriwayatkan oleh satu orang sahabat. Bila
tidak maka akan saya jadikan seatu bentuk tersendiri yang terpisah, seperti
halnya doa-doa pembuka dan yang lainnya. Yang demikian ini merukanan suatu yang
bernilai dan terpuji yang jarang ditemui pada sebuah karangn. Alhamdulillah,
karena nikmatNya segala kebaikan menjadi sempurna.
Selain itu saya sebutkan pendapat-pendapat mazhab sekitar hadits yang
menhjadi topik dan yang sedang dikaji dengan menyertakan dalil-dalil setiap
pendapat dan mendiskusikannya dengan menjelaskan kelebihan dan kekurangnnya
masing-masing. Sehingg pada gilirannya dapat kita ambil kesimpulan yang kuat
dari uraian yang terdapat pada bagian jalur atas. Terkadang saya lampirkan juga
beberapa masalah yang tidak terdapat pada teks-teks sunnah tetapi terdapat pada
pendapat seorang mujtahid namun tidak termasuk topik pembahasan.
Sayang sekali mencetak dua pembahasan itu tidak mudah dilakukan dikarenakan
masalah-masalah yang mendesak. Karena itulah saya menerbitkan pembahasan
pertama yang sama sekali terpisah dengan pembahasan kedua dan saya beri judul ”Sifat-sifat Sholat Nabi Dimulai dari Takbir
Sampai Salam Seakan Engkau Melihatnya Sendiri”
Mudah-mudahan Allooh Subhaanahuwa Ta’ala menjadikan buku ini sebagai
kebaikan untuk mendapatkan ridhaNya dan bermanfaat bagi rekan-rekan sesama
muslim. Sesungguhnya Dia Maha Mengabulkan doa.
Pendapat Para Imam Sekitar Mengikuti Sunnah dan Meninggalkan
Pendapat-Pendapat yang Bertentangan Dengannya.
Kiranya ada baiknya saya paparkan disini apa yang telah sebagian yang saya
uraikan diatas, mudah-mudahan menjadi nasihat dan pengingat bagi orang yang
bertaklid terhadap meraka. Bahkan bertaklid buta[1]
kepada orang-orang yang kelasnya jauh dibawah mereka, berpegang kepada
pendapat-pendapat mereka seakan-akan pendapat itu datang dari langit, sedangkan
Alloh berfirman dalam surat al-A’raaf ayat 3 (artinya) ”Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu
mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amatlah sedikitlah kamu mengambil
pelajaran (dari padanya)”
1. Abu Hanifah
Yang pertama adalah Imam Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit. Telah diriwayatkan
darinya pendapat-pendapat dan ungkapan-ungkapan beragam yang semuanya bermuara
pada satu makna. Yaitu kewajiban mengambil hadits sebagai dalil dan
meninggalakan pendapat-pendapat yang bertentangan dengannya.
a.
Bila suatu hadits itu
benar maka itulah mazhabku
b.
Tidak dibolehkan bagi
seseorang untuk mengambil pendapat kami bila tidak mengetahui darimana kami
mengambilnya. Dalam sebuah riwayat disebutkan ”Haram bagi orang yang tidak mengetahui dalilku berfatwa dengan
pendapat saya”
Dalam riwayat lain ditambahkan ”Sesungguhnya
kita adalah manusia yang mengemukakan pendapat hari ini dan berubah pendapat
pada keesokan harinya”. Disebutkan juga dalam riwayat lain ”Apa-apaan engkau wahai Ya’kukb! (Abu
Yusuf), jangan engkau tulis semua yang kau dengan dariku. Karena aku
mengemukakan pendapat hari ini dan keesokan harinya mungkin aku
meninggalkannya. Besok aku berpendapat sesuatu dan lusanya aku tinggalkan”
c.
Apabila aku
mengemukakan suatu pendapat yang bertentangn dengan kitab Alloh dan khabar dari
Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam, hendaknya kalian meninggalkan
pendapatku.
2. Malik bin Anas
Ia berkata sebagai berikut.
a.
Sesungguhnya aku
adalah manusia yang terkadang salah dan terkadang benar, maka lihatlah
pendapatku. Apabila sesuai dengan Al-Qur’an dan sunnah maka ambillah. Setiap
yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan sunnah, tinggalkan.
b.
Setiap perkataan orang
boleh dipakai atau ditinggalkan kecuali perkataan Nabi sallalloohu ‘alaihi wa
sallam.
c.
Ibu Wahab berkata :
”Aku mendengar Malik ditanya tentang menyela-nyela jari-jari kedua kaki dalam
wudlu. Ia berkata ’Hal itu tidak wajib’.
Lalu saya meninggalkannya sampai orang-orang yang mengelilinginya sedikit. Saya
katakan kepadanya, ’Hal ini menurut kami
sunnah’ Malik bertanya ’Apa
haditsnya?’ Saya menjawab ’Dikatakan
Laits bin Sa’ad, Ibnu Luhai’ah dan Amru bin Harits, dari Yazid bin Amru
al-Ma’afiri, dari Abu Abdurrahmanal-Habli, dari al-Mustaurid bin Syadad
al-Qurasyi, ia berkata ’Aku melihat Rasulullooh
sallalloohu ‘alaihi wa sallam menggosokkan jari-jari manisnya pada cela-cela
jari kedua kakinya’ Lalu Malik menyela ’Hadits
ini hasan, aku tidak pernah mendengarnya kecuali sekarang ini.’ Kemudian di
lain waktu ia ditanya dengan masalah yang sama dan ia menyuruh agar
menyela-nyela jari-jari kedua kakinya.”
3. Imam Syafi’i
Ucapan Imam Syafi’i dalam masalah ini lebih banyak dan lebih baik. Para
pengikutnyapun lebih banyak mengamalkannya dan lebih menyenangkan. Diantara
ucapannya adalah sebagai berikut.
a.
Tidak ada seorangpun
yang bermazhab melainkan mazhab Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam.
Apapun pendapat yang saya kemukakan atau yang saya sarikan sedangkan terdapat
hadits yang bertentangan dengan pendapatku maka yang benar adalah sabda Rasulullooh
sallalloohu ‘alaihi wa sallam. Itulah pendapatku.
b.
Umat Islam telah
berijma’ bahwa orang yang telah mengetahui sebuah hadits dari Rasulullooh
sallalloohu ‘alaihi wa sallam maka tidak boleh meninggalkannya untuk mengambil
pendapat seseorang.
c.
Jika kalian mendapati
dalam kitabku yang bertentangan dengan sunnah Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi
wa sallam maka ambillah sunnah Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam dan
tinggalkanlah pendapatku. Dalam sebuah riwayat dikatakan ’Maka ikutilah dan janganlah kalian mengikuti pendapat siapapun’
d.
Bila sebuah hadits
dinyatakan sahih, maka itulah mazhabku.
e.
Kalian lebih
mengetahui hadits dan rawi-rawinya daripada aku. Bila suatu hadits dinyatakan
sahih maka beritahukanlah kepadaku darimanapun asalnya, dari Kufah, Basrah atau
Syam. Bila benar sahih aku akan menjadikannya mazhabku.
f.
Setiap masalah yang
ada haditsnya dari Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam menurut ahli
hadits yang bertentangan dengan pendapatku, niscaya aku cabut pendapatku baik
selama aku masih hidup atau setelah matiku.
g.
Bila kalian melihatku
mengemukakan suatu pendapat, dan ternyata ada hadits sahih yang bertentangan
dengan pendapatku maka ketahuilah bahwa pendapatku tidak pernah ada.
h.
Semua yang aku ucapkan
sedangkan ada hadits Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam yang sahih
bertentangan dengan pendapatku maka hendaknya diutamakan hadits Rasulullooh
sallalloohu ‘alaihi wa sallam, janganlah bertaklid kepadaku.
i.
Setiap hadits yang
sahih dari Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam adalah pendapatku,
sekalipun kalian tidak mendengarnya dariku.
4. Ahmad bin Hambal
Imam Hambali adalah seorang imam yang terbanyak mengumpulkan hadits dan
yang paling teguh memegangnya. Bhakan ia tidak mau menyusun buku yang mencakup furu’ dan ra’yu. Karena itu ia berkata sebagai berikut.
a.
Janganlah bertaklid
kepadaku, Malik, Syafi’i, Auza’i dan tidak pula Tsuri, ambillah dari apa yang
meraka ambil. (Dalam sebuah riwayat dikatakan : Janganlah bertaklid dalam
masalah agama kepada para Imam, ikutilah apa yang dapat dari Rasulullooh
sallalloohu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Sedangkan dari tabi’in boleh
memilihnya (menolak atau menerima).
b.
Al-Auza’i berpendapat,
Malik berpendapat, dan Abu Hanifah berpendapat. Menurutku semuanya adalah ra’yu,
sedangkan yang dapat dijadikan hujjah dalam masalah-masalah agama adala atsar
(hadits).
c.
Barangsiapa menolak
hadits Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam maka ia berada di tepi
kehancuran.
Demikian pendapat-pendapat para imam dalam masalah berpegang teguh pada
hadits, dan larangan bertaklid tanpa pengetahuan. Masalahnya sangat jelas tanpa
perlu perdebatan dan penakwilan. Yaitu barangsiapa berpegang teguh terhadap
hadits, seklipun bertentangan dengan pendapat para imam, tidak berarti
menyalahi pendapat mazhab yang dianut dan juga tidak berarti telah keluar dari
jalan yang ditempuh mazhabnya. Bahkan dengan demikian telah mengikuti jalan dan
pendapat para imam, telah berpegang pada tali yang kuat yang tidak dapat
dipisahkan.
Akan tetapi tidak demikian dengan sebaliknya. Barangsiapa yang meninggalkan
sunnah yang sahih hanya dikarenakan tealh berbeda dengan pendapat para imam
maka bearti telah melanggar para imam dan telah menentang pendapat para imam
sebagaimana tersebut diatas. Alloh berfirman dalam QS. an-Nisaa’ ayat 65
(artinya) ”Maka demi Rabbmu, mereka (pada
hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara
yang mereka perselisihkan. Kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati
mereka terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dangan sepenuhnya”
Dan QS. An-Nur ayat 63 (artinya) ”Hendaklah
orang-orang yang menyalahi perintahNya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa
azab yang pedih”
Al-Hafidz Ibnu Rajab berkata ”Hendaknya orang yang telah mengetahui hadits Rasulullooh
sallalloohu ‘alaihi wa sallam menjelaskannya kepada umat, menasihatinya dan
menyeru mereka mengikuti dan ber-ithba’ meski bertentangan dengan pendapat
orang yang berpengaruh sekalipun. Sesungguhnya hagist Rasulullooh sallalloohu
‘alaihi wa sallam lebih layak untuk diagungkan dan diteladani daripada pendapat
orang yang paling berpengaruh dan terkenal dikalangan umat yang berselisih
pendapat, yang terkadang pendapat mereka itu salah.
Berdasarkan hal inilah para sahabat dan generasi setelahnya menolak setiap
pendapat yang bertentangan dengan sunnah yang sahih. Bahkan cara penolakannya
terlihat kasar. Bukan karena perasaan benci tetapi karena perasaan cinta dan
pengagungan pada diri mereka. Pasalnya Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa
sallam lebih mereka cintai dan perintahnya dijunjung tinggi diatas perintah
semua makhluk. Apabila terjadi pertentangan antara perintah Rasulullooh
sallalloohu ‘alaihi wa sallam dengan yang lainnya maka hendaknya perintah Rasulullooh
sallalloohu ‘alaihi wa sallam didahulukan dan diikuti. Namun tetapi menghargai
orang yang berselisih dengan perintah Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam
meskipun dia itu adalah orang yang telah diampuni. Bahkan orang yang telah
diampuni oleh Allooh Subhaanahuwa Ta’ala apabila didapi pendapatnya
bertentangan dengan perintah Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam tidak
merasa benci bila seseorang meninggalkan pendaptnya jika benar-benar
pendapatnya itu bertentangan dengan perintah Rasulnya.
Menurut saya, tidak masuk akal apabila mereka membenci akan hal itu.
Sedangkan imam telah memerintahkan pengikutnya dan mengharuskan mereka agar
menginggalkan pendapat mazhab jika kemudian didapati bertentangan dengan
sunnah. Bahkan imam Syafi’i memerintahkan kepada muridnya agar mengatasnamakan
dirinya terhadap sunnah yang sahih, meskipun dia sendiri tidak meriwayatkannya
atau malah pendapatnya bertentangan dengan sunnah itu.
Oleh karena itu Ibnu Daqiq al-’Id ketika menyusun masalah-masalah setiap
imam mazhab yang bertentangan dengan sunnah dalam satu jilid besar, ia dalam
mukadimahnya berkata ”Sesungguhnya
menisbatkan masalah-masalah ini kepada para imam mujtahid hukumnya haram.
Hendaknya para ahli fikih yang mengikuti jejeaknya mengetahuinya agar tidak
terjadi salah paham sehingga berakibat berlaku dusta kepada mereka” Lihat
al-Fulani halaman 99.
TATA CARA SHOLAT
A.
Mengahadap Kiblat
Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam dalam melaksanakan sholat fardhu
dan sunnah menghadap kiblat. Beliau pun memerintahakannya demikian dalam
sabdanya kepada orang yang tidak benar sholatnya, ”Bila engkau berdiri untuk melakukan sholat maka sempurnakanlah
wudhumu, kemudian menghadaplah kiblat, lalu bertakbirlah” (HR. Bukhari dan
Muslim).
Dalam perjalanannya Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam biasanya
melakukan sholat sunnah diatas kendarannya (unta). Beliau juga melakukan witir
diatas kendaraannya dan mengadap kemana saja kendaraannya menghadap (timur
maupun barat). Alloh berfirman dalam QS al-Baqarah ayat 115 (artinya) ”Maka kemanapun kamu menghadap disitulah
wajah Alloh”.
Dalam riwayat Bukhari dan Ahmad disebutkan bahwa apabila hendak melakukan
sholat fardhu, Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam turun dari
tunggangannya lalu menghadap kiblat.
B.
Berdiri
Dalam sholat fardhu dan sunnah Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam
melakkukannya sambil berdiri sesuai dengan perintah Allooh Subhaanahuwa Ta’ala
dalam QS al-Baqarah ayat 238 (artinya) ”Berdirilah
untuk Alloh (dalam sholatmu) dengan khusyu.”
Dalam sebuah riwayat Tirmidzi dan Ahmad disebutkan bahwa Rasulullooh
sallalloohu ‘alaihi wa sallam melakukan sholat menjelang datang ajalnya sambil
duduk. Dalam kesempatan lain Beliau melakukan sholat sambil duduk, yaitu ketika
dalam keadaan sakit. Sedangkan orang-orang dibelakangnya mengikutinya sambil
berdiri. Lalu Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam memberikan isyarat agar
mereka duduk, maka merekapun duduk. Setelah selesei sholat Beliau bersabda ”Kalian tadi hampir saja melakukan apa yang
telah dilakukan oleh bangsa Romawi dan Persia, dimana mereka berdiri di depan
rajanya sedangkan rajanya duduk. Maka janganlah kalian melakukannya.
Sesungguhnya keberadaan imam adalah agar diikuti. Bila ia ruku, maka rukulah;
bila berdiri maka berdirilah; dan jika sholat sambil duduk maka duduklah
bersama-sama”. (HR Muslim).
Sholat orang sakit sambil duduk, seperti sabda Beliau ”Shalatlah sambil berdiri. Bila tidak bisa, sambil duduk. Bila tidak
bisa sambil terlentang.” (HR. Bukhari, Abu Daud & Ahmad). Juga Beliau
bersabda ”Barangsiapa melakukannya dengan
berdiri, maka itu lebih utama. Adapun bagi yang melakukannya sambil duduk maka
baginya separoh pahala yang berdiri. Barangsiapa yang sholat sambil tidur
(terlentang) baginya separuh pahala orang yang sholat sambil duduk. Yang
dimaksud disini adalah orang yang sakit.” (HR. Bukhari, Abu Daud &
Ahmad).
Suatu ketika Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam mengunjungi orang
yang sakit lalu melihat orang itu melakukan sholat diatas bantal. Rasulullooh
sallalloohu ‘alaihi wa sallam mengambil bantal itu dan melemparkannya. Orang
itu lalu mengambil ’ud (papan kayu)
untuk sholat diatasnya. Tatapi Nabi sallalloohu ‘alaihi wa sallam mengambil dan
membuangnya lalu bersabda ”Sholatlah
diatas tanah bila engkau bisa. Bila tidak cukuplah dengan isyarat, dan
hendaknya isyarat sujudnya lebih rendah dari rukumu.” (HR. Thabrani, Bazzar
dan Baihaqi).
Dalam hadits riwayat Bukhari dan Ahmad, Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa
sallam berdiri di dekat pembatas. Jarak antara beliau dan pembatas sekitar 3
hasta. Menurut Bukhari dan Muslim, jarak antara tempat sujudnya dan tembok
cukup untuk dilalui seekor kambing.
Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda ”Janganlah engkau sholat kecuali dengan pembatas, dan janganlah engkau
membiarkan seseorang lewat di depanmu dikala sholat. Jika dia memaksakan
kehendaknya lewat di depanmu, bunuhlah dia karena sesungguhnya ia bersama
dengan setan.” (HR. Ibnu Khuzimah); dan juga ”Jika seseorang dari kalian melakukkan sholat pada pembatas hendaknya
mendekatkan pada batas itu sehingga setan tidak dapat memutus sholatnya.”
(HR Abu Daud, Bazzar dan Hakim).
Apabila Beliau sholat di tempat terbuka, tidak ada sesuatu sebagai pembatas
(didepan tempat sholat), maka beliau menancapkan tombak didepannya. Lalu beliau
melakukan sholat menghadap pembatas itu, sedangkan orang-orang bermakmum
dibelakangnya. Hal ini sebagaimana dikatakan Bukhari, Muslim dan Ibnu Majah.
Beliau bersabda, ”Apabila seseorang
diantara kalian meletakkan tiang sepanjang pelana di depannya, maka sholatlah
menghadapnya dan hendaknya tidak menghiraukan orang yang lewat dibelakang tiang
itu.” (HR Muslim dan Abu Daud).
Ibnu Khuzimah, Thabrani dan Hakim meriwayatkan bahwa Rasulullooh
sallalloohu ‘alaihi wa sallam tidak pernah membiarkan sesuatu yang melewati
antara dirinya dan pembatasnya. Pernah Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam
sholat lalu lewat didepannya seekor kambing. Maka Rasulullooh sallalloohu
‘alaihi wa sallam mendahuluinya maju kedepan sampai perutnya menempel di
dinding (sehingga kambing itu melewati belakang Beliau).
Suatu ketika Rasulullooh
sallalloohu ‘alaihi wa sallam sholat wajib, Beliau sallalloohu ‘alaihi wa
sallam menggenggam tangannya. Usai sholat mereka bertanya “Wahai Rasulullah, adakah sesuatu yang baru dalam sholat?” Beliau menjawab “Tidak, hanya saja
setan hendak lewat di depanku. Lalu aku cekik sampai lidahnya terasa dingin di
tanganku. Demi Alloh, seandainya saudaraku, Nabi Sulaiman tidak mendahuluiku,
maka aku akan ikat setan itu pada sebuah tiang masjid sehingga dapat dilihat
anak-anak kecil penduduk Madinah.” (HR Ahmad, Daruquthni dan Thabrani).
Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda ”Apabila seseorang melakukkan sholat menghadap sesuatu sebagai pembatas
dari orang lain, maka apabila seseorang melampaui batas didepannya itu maka
hendaknya mendorong sekuatnya atau semampunya (dalam riwayat lain disebutkan :
hendaknya menghalanginya dua kali). Jika ia tetap menerobos maka bunuhlah ia.
Sesungguhnya dia adalah setan.” (HR Bukhari dan Muslim); juga Beliau
bersabda ”Apabila orang yang lewat di
depan orang yang sholat itu mengetahui dosanya, niscaya dia akan lebih baik
berdiri 40 (empat puluh) tahun daripada berlalu didepan orang yang sholat.”
(HR Bukhari dan Muslim).
Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda ”Sholat seseorang menjadi putus apabila tidak dibatasi dengan semacam
pelana didepannya lalu dilewati oleh wanita haid (balig), keledai dan anjing
hitam” Abu Dzar berkata ”Wahai
Rasulullah, apakah bedanya anjing hitam dan anjing berwarna merah?” Beliau
menjawab ”Anjing hitam adalah setan.”
(HR Muslim, Abu Daud & Khuzaimah).
Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam melarang orang melakukan sholat
menghadap kubur dengan sabdanya ”Janganlah
kalian sholat menghadap kubur dan janganlah duduk diatasnya.” (HR Muslim,
Abu Daud & Ibnu Khuzimah).
Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda ”Sesungguhnya segala
perbuatan itu tergantung dari niatnya, dan sesungguhnya setiap orang
mendapatkan balasan sesuai dengan niatnya (HR Bukhari & Muslim)
D.
Takbir
Dalam hadits riwayat Muslim dan Ibnu Majah, disebutkan bahwa Rasulullooh
sallalloohu ‘alaihi wa sallam membuka sholatnya dengan ucapan Allohu Akbar (Alloh Mahabesar).
Beliaupun memerintahkan demikian kepada orang yang tidak benar dalam sholatnya,
sebagaimana sabda Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam ”Tidaklah sholat seseorang itu menjadi sempurna sampai ia berwudhu
dengan benar, lalu berkata Allohu Akbar”(HR Thabrani)
Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam juga bersabda ”Kunci sholat adalah suci, tahrimnya[3] pengharamannya adalah
takbir dan thalilnya[4],
penghalalannya adalah salam.” (HR Abu Daud,
Tirmidzi & Hakim).
Dalam hadits riwayat Ahmad dan Hakim disebutkan bahwa Rasulullooh
sallalloohu ‘alaihi wa sallam mengangkat suaranya dalam takbir sehingga
terdengar oleh orang-orang yang makmum dibelakangnya. Rasulullooh sallalloohu
‘alaihi wa sallam bersabda ”Apabila imam
mengucapkan Allohu Akbar, maka katakanlah Allohu Akbar” (HR Ahmad dan
Baihaqi).
E.
Mengangkat Tangan
Terkadang Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua
tangannya sambil mengucapkan takbir[5],
dan terkadang mengangkatnya setelah takbir[6], dan
terkadang (mengangkat tangan) setelah ucapan takbir[7].
Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya dengan jari
terbuka rapat (tidak renggang dan tidak menggenggam)[8].
Dan Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam mengangkatnya sampai sejajar
dengan kedua bahunya dan terkadang sampai kedua telinganya[9].
F.
Meletakkan Tangan Kanan Diatas Tangan Kiri (Bersedekap)
Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangan kanannya diatas
tangan kirinya[10].
Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda ”Sesungguhnya para Nabi memerintahkan kepada kita agar mempercepat saat
berbuka dan mengakhirkan waktu sahur dan agar meletakkan tangan kanan diatas
tangan kiri kita dalam sholat.” (HR Ibnu Hibban dan Dhiya).
G.
Meletakkan Kedua Tangan (Bersedekap) di Dada
Nabi sallalloohu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangan kanan diatas punggung
tangan kirinya, pergelangan dan lengan[11],
dan memerintahkan demikain kepada sahabat-sahabatnya[12].
Terkadang Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam mengenggam lengan kirinya dengan
jari-jari tangan kanannya[13].
Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam meletakkan keduanya diatas dada[14].
H.
Khusyu dan Memandang Tempat Sujud
Dalam hadits riwayat Baihaqi dan Muslim disebutkan bahwa Nabi sallalloohu
‘alaihi wa sallam dalam sholat menundukkan kepalanya dan pandangannya tertuju
ke tanah. Rasulullah melarang mengangkat pandangannya ke langit sebagaimana
tercantum dalam hadits riwayat Bukhari dan Abu Daud. Larangan itu dipertegas
dengan sabdanya ”Hendaknya orang-orang
menghentikan mengarahkan pandangannnya ke langit pada waktu sholat atau tidak
dapat kembali lagi kepada mereka (dalam riwayat lain disebutkan : atau mata-mata mereka tercolok)”. (HR
Bukhari, Muslim & Siraj).
Dalam hadits lain disebutkan ”Apabila
kalian melakukan sholat maka hendaknya janganlah menolah-noleh karena Alloh
akan menghadapkan wajahNya kepada wajah hambanya ketika sholat selama ia tidak
menolah-noleh.” (HR Tirmidzi dan Hakim)
Dalam hadits yang diriwayatkan Ahmad dan Abu Ya’la disebutkan bahwa Rasulullooh
sallalloohu ‘alaihi wa sallam melarang 3 perkara dalam sholat. Yaitu sholat
dengan cepat seperti ayam yang mematuk, duduk diatas tumit seperti duduknya
anjing, dan menolah-noleh seperti musang. Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam
juga bersabda ”Sholatlah seperti halnya
sholat orang yang akan meninggal, yaitu seakan-akan engkau melihat Alloh. Jika
engkau tidak melihatNya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR Thabrani,
Ibnu Majah & Ahmad).
Beliau telah sholat dengan baju yang terbuat dari wol yang bergambar, lalu Rasulullooh
sallalloohu ‘alaihi wa sallam melihat sepintas gambar-gambar itu. Usai sholat Beliau
sallalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda ”Bawalah
bajuku ini kepada Abu Jahm dan bawalah kepadaku kain yang kasar Abu Jahm.
Karena bajuku ini telah mengalihkan perhatian sholatku tadi. (dalam riwayat
lain dikatakan : Sesungguhnnya aku telah
melihat gambarnya saat sholat dan hampir saja aku tergoda).” (HR Bukhari, Muslim & Malik).
Aisyah mempunyai kain bergambar untuk tirai, Rasulullooh sallalloohu
‘alaihi wa sallam sholat menghadapnya. Lalu Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa
sallam bersabda ”Jauhkanlah kain itu,
sesungguhnya gambarnya mengganggu sholatku.” (HR Bukhari & Muslim).
Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda ”Tidak sempurna sholatnya orang yang telah terhidang makannya, serta
ketika menahan keluarnya angin dan buang air.” (HR Bukhari & Muslim).
DO’A DAN BACAAN DALAM SHOLAT
A.
Doa-Doa Pembuka
Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam membuka bacaan dengan doa-doa
yang banyak dan bermacam-macam. Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam memuji Alloh,
mengagungkanNya dan menyanjungNya. Rasulullah telah memerintahkan demikian bagi
yang tidak benar sholatnya. Beliau bersabda ”Tidak
sempurna sholat seseorang sehingga ia bertakbir, bertahmid dan menyanjungNya
serta membaca ayat-ayat al-Qur’an yang dihapal.” (HR Bukhari dan Muslim).
Dalam bacaan pembukaan, terkadang Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam
membaca doa sebagai berikut :
1.
اَللَّهُمَّ
بَاعِدْ بَيْنِيْ وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ
وَالْمَغْرِبِ، اَللَّهُمَّ نَقِّنِيْ مِنْ خَطَايَايَ، كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ
اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اَللَّهُمَّ اغْسِلْنِيْ مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ
وَالْبَرَدِ.
"Ya, Allooh, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku
sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya, Allooh, bersihkanlah
kau dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran.
Ya, Allooh cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan
embun." (HR. Bukhari, Muslim dan Ibnu Abi Syaibah).
2.
وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمَاوَاتِ
وَاْلأَرْضَ حَنِيْفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ، إِنَّ صَلاَتِيْ،
وَنُسُكِيْ، وَمَحْيَايَ، وَمَمَاتِيْ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، لاَ شَرِيْكَ
لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَنْتَ
الْمَلِكَ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ. أَنْتَ رَبِّيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، ظَلَمْتُ
نَفْسِيْ وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْلِيْ ذُنُوْبِيْ جَمِيْعًا إِنَّهُ
لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ. وَاهْدِنِيْ لأَحْسَنِ اْلأَخْلاَقِ لاَ
يَهْدِيْ لأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّيْ سَيِّئَهَا، لاَ يَصْرِفُ
عَنِّيْ سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ، لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ، وَالْخَيْرُ كُلُّهُ
بِيَدَيْكَ، وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ، أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ، تَبَارَكْتَ
وَتَعَالَيْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ.
“Aku menghadap kepada Tuhan Pencipta langit dan bumi, dengan me-megang
agama yang lurus dan aku tidak tergolong orang-orang yang mus-yrik.
Sesungguhnya shalat, ibadah dan hidup serta matiku adalah untuk Allooh. Tuhan
seru sekalian alam, tiada sekutu bagiNya, dan karena itu, aku diperintah dan
aku termasuk orang-orang muslim. Ya Allooh, Engkau adalah Raja, tiada Tuhan
(yang berhak disembah) kecuali Engkau, engkau Tuhanku dan aku ada-lah hambaMu.
Aku menganiaya diriku, aku mengakui dosaku (yang telah kula-kukan). Oleh karena
itu ampunilah selu-ruh dosaku, sesungguhnya tidak akan ada yang mengampuni
dosa-dosa, ke-cuali Engkau. Tunjukkan aku pada akhlak yang terbaik, tidak akan
menunjukkan kepadanya kecuali Engkau. Hindarkan aku dari akhlak yang jahat,
tidak akan ada yang bisa menjauhkan aku daripada-nya, kecuali Engkau. Aku
penuhi pang-gilanMu dengan kegembiraan, seluruh kebaikan di kedua tanganMu,
kejelekan tidak dinisbahkan kepadaMu. Aku hidup dengan pertolongan dan
rahmatMu, dan kepadaMu (aku kembali). Maha Suci Engkau dan Maha Tinggi. Aku
minta ampun dan bertaubat kepadaMu” (Hadits diriwayatkan oleh Imam Muslim).
3.
Subhaanaka Allohumma
wabihamdika wa tabaarakasmuka wadduka walaa ilaha ghoiruka, yang artinya
”Mahasuci Engkau ya Alloh, Maha Terpuji Engkau, Mahamulia Engkau serta
Mahatinggi kehormatanMu dan tiada tuhan selain Engkau (HR Ibnu Mundih dan
Nasa’i)
4.
Dan lain-lain.
B.
Tata Cara Bacaan Dalam Sholat
1. Membaca Ta’awwudz.
Kemudian Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam membaca ta’awwudz dengan
mengucapkan ”A’udzubillahi
minasyaithonirrojim min hamazihi wanafkhihi wanafatsihi” (Aku berlindung kepada
Alloh dari godaan setan yang terkutuk dari semburannya, kesombongannya, dan
embusannya) (HR Abu Daud, Ibnu Majah, Daruquthni & Hakim).
Terkadang Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam menambahinya dengan ”A’udzubillahis-samii’il’alim
minasy-syaithoonirrojim” (Aku berlindung kepada Alloh Yang Mahamendengan lagi
Mahamengetahui dari godaan setan yang terkutuk) (HR Abu Daud, Tirmidzi
& Ahmad).
Setelah itu Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam membaca ”Bismillahir-rahman-nirrahim” (Dengan nama Alloh
Yang Mahapengasih dan Mahapenyayang) (dengan tanpa mengangkat/mengeraskan
suara). (HR Bukhari, Muslim & Ahmad)
2. Membaca
Surat al-Faatihah, Ayat per Ayat
Kemudian Rasulullooh
sallalloohu ‘alaihi wa sallam membaca surat
al-Faatihah dengan memotong setiap ayat :
a. Bismillaahir-rahmanir-rahim.
b. Alhamdulillaahirab-bil’aalamiin.
c. Sampai
dengan akhir ayat.
Demikian Rasulullooh
sallalloohu ‘alaihi wa sallam membaca al-Fatihah sampai akhir surah. Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam tidak menyambung ayat dengan ayat berikutnya. Demikian
yang diriwayatkan Abu Daud dan Sahmi.
3. Membaca al-Faatihah Sebagi Rukun Dan Keutamaannya
Beliau selalu mengagunggkan surat ini dengan sabdanya ”Tidak sah sholat seseorang apabila belum membaca surah al-Faatihah
(dan seterusnya). (HR Bukhari, Muslim dan Baihaqi)
4. Mengeraskan Bacaan Bagi Makmum
Sebelumnya Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam membolehkan makmum
membaca al-Fatihah dengan keras. Akan tetapi pada suatu sholat Subuh Beliau
sallalloohu ‘alaihi wa sallam merasa terganggu oleh bacaan seorang makmum. Setelah
selesei sholat Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda ”Apakah kalian tadi ikut membaca bacaan
imam?” Mereka menjawab “Benar, akan tetapi dengan cepat wahai Rasulullah”
Rasulullah berkata “Janganlah kalian lakukan kecuali kalian membaca al-Fatihah.
Sesungguhnya tidak sah sholat seseorang kecuali membacanya.” (HR Bukhari,
Abu Daud & Ahmad).
Tetapi kemudian
membaca cara ini dilarang oleh Nabi sallalloohu ‘alaihi wa sallam. Yaitu ketika
Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam kembali dari sholat jahr (sholat yang dibolehkan membaca
al-Qur’an dengan keras). Dalam sebuah riwayat
dikatakan pertisiwa itu terjadi pada sholat Subuh. Beliau bersabda ”Adakah tadi kalian mengikutiku membaca
al-Qur’an dengan suara keras?” Seseorang menjawab ”Aku wahai Rasulullah” Nabi
sallalloohu ‘alaihi wa sallam berkata ”Kenapa ada yang membaca demikian
sehingga mengganggu bacaanku?” Abu Hurairah berkata ”Maka para sahabat berhenti
membaca al-Qur’an dengan keras dalam sholat dimana Rasulullah mengeraskan
bacaannya ketika mereka mendengar teguran dari Rasulullah. (Mereka membaca
tanpa suara pada sholat dimana imam tidak mengeraskan bacaan)” (HR Malik,
Humaidi, Abu Daud dan Bukhari).
Maka berdiam saat imam membaca al-Qur’an menjadi syarat kesempurnaan
bermakmum. Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda ”Sesungguhnya dijadikannya imam itu agar
diikuti oleh makmum, maka apabila mengucapkan takbir, ikutilah mengucapkan
takbir. Janganlah membaca al-Qur’an, diam dan dengarkanlah.” (HR Abu Daud,
Muslim & Abu Uwanah).
Oleh karena itu makmum yang mendengarkan bacaan imam tidak perlu lagi turut
membacanya. Sabda Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam ”Barang siapa yang sholat bermakmum maka
bacaan imam adalah menjadi bacaannya juga.” (HR Daruquthni, Ibnu Majah
& Ahmad). Ini untuk sholat-sholat yang jahr
(imam mengeraskan bacaannya).
5. Kewajiban Membaca Tanpa Suara
Adapun pada sholat-sholat yang harus membaca tanpa suara, Rasulullooh
sallalloohu ‘alaihi wa sallam telah menetapkan kehaursan membaca al-Qur’an
padanya. Jabir berkata ”Kami membaca
al-Faatihah dan surah al-Qur’an pada sholat Dzuhur dan Ashar dibelakang imam
pada dua rakaat pertama, sedangkan pada dua rakaat berikutnya membaca
al-Faatihah (saja).” (Riwayat
Ibnu Majah).
6. Imam Mengucapkan Amin Dengan Mengangkat Suara
Dalam hadits riwayat Bukhari dan Abu Daud disebutkan bahwa ketika Rasulullooh
sallalloohu ‘alaihi wa sallam selesai membaca al-Faatihah, Beliau sallalloohu
‘alaihi wa sallam mengucapkan amin dengan suara jelas dan panjang. Orang-orang
yang bermakmumpun dianjurkan untuk mengucapkannya. Sabda Beliau sallalloohu
‘alaihi wa sallam ”Apabila imam sholat
mengucapkan ”Ghoiril maghdhuubi’alaihim waladhaaliin” maka katakanlah ”Amin”.
(Sesungguhnya malaikiat berkata ”Amin” dan imampun mengucapkan ”Amin”). Dalam
lafal lain disebutkan bahwa jika seorang imam sholat mengucapkan amin, maka
ikutilah dengan mengucapkan amin. Apabila ucapan amin itu bersama dengan ucapan
malaikat, (Dalam lafal lain disebutkan : Apabila seseorang mengucapkan amin
dalam sholat, dan para malaikat di langit mengucapkan amin dengan bersamaan)
niscaya dosa-dosanya akan diampuni.” (HR Bukhari, Muslim & Nasa’i).
Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam juga bersabda ”Tidak ada suatu yang paling menjadikan
orang-orang Yahudi iri kepada kalian kecuali ucapan salam dan amin (dibelakang
imam).” (HR Bukhari, Ibnu Majah dan Ahmad).
7. Bacaan
Setelah Membaca al-Faatihah.
Setelah membaca
al-Faatihah, Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam membaca surah lainnya. Terkadang membaca surah panjang dan kadang surah pendek karena suatu
penyebab seperti sedang dalam perjalanan, sakit batuk atau sakit lainnya. Atau
mendengar tangis anak kecil sebagaimana yang disebutkan oleh Anas bin Malik ra.
8. Boleh Hanya Membaca al-Faatihah
Mu’adz pernah sholat Isya berjamaah dengan Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi
wa sallam di akhir waktu, lalu pulang. Disana ia sholat lagi bersama
sahabat-sahabatnya sebagai imam. Dalam jamaah itu terdapat seorang anak muda
bernama Sulaim dari bani Salamah. Anak muda itu merakan sholatnya terlalu lama,
maka ia keluar dan sholat sendiri di pojok masjid. Usai sholat ia bergegas
keluar masjid dan menunggang untanya langsung meninggalkan tempat itu.
Setelah sholat Mu’adz diberitahu akan kejadian ini. Ia berkata ”Sungguh hal ini perbuatan munafik!. Aku
akan laporkan apa yang diperbuatnya kepada Rasulullah.” Anak muda itu juga
berkata ”Aku juga akan adukan apa yang
dilakukan kepada Rasulullah.”
Keesokan harinya mereka datang kepada Rasulullah. Mu’adz mengadukan apa
yang dilakukan anak muda itu, dan anak muda itupun melaporkan apa yang diperbuat
oleh Mu’adz. Ia berkata ”Wahai Rasulullah
dia telah sholat yang lama denganmu. Lalu ia pulang dan mengimami kami dengan
lama”. Rasulullah menjawab ”Wahai
Mu’adz akankah engaku membuat fitnah?” Rasulullah bertanya kepada anak muda itu
”Apa yang engkau lakukan dalam sholatmu?” Ia menjawab ”Aku membaca al-Faatihah,
lalu berdoa memohon surga kepada Allooh, dan berlindung dari siksa neraka. Aku
tidak tahu apa yang engaku baca dengan suara lirih dan yang dibaca Mu’adz” Nabi
menyahut ”Aku dan Mu’adz seperti ini (telunjuk dan jari tengah).” Anak muda itu
berkata ”Akan tetapi Mu’adz akan tahu kalau musuh datang, sedangkan mereka
telah diberitahu bahwa musuh telah datang di tempat mereka.” Orang yang
meriwayatkan hadits ini berkata ”Kaum tersebut kemudian datang menyerang dan
anak muda itu gugur sebagai syahid. Lalu Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa
sallam bersabda kepada Mu’adz ”Setelah peristiwa itu bagaimana kamu dengan
orang yang mengadukanmu kepadaku?” Mu’adz menjawab ”Wahai Rasulullah, Allooh
Mahabenar dan saya keliru. Anak muda itu telah gugur sebagai syahid.” (HR
Ibnu Khuzaimah, Baihaqi, Ahmad, Abu Daud, Bukhari & Muslim)
9. Membaca al-Faatihah Dengan Suara Keras dan Tanpa Suara Pada Sholat Lima
Waktu Dan Sholat Lainnya.
Pada sholat Suhubh dan pada rakaat pertama dan kedua pada sholat Maghrib
dan ’Isya, Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam membaca al-Faatihah dan
surah lainnya dengan suara keras. Sedangkna pada sholat Dzuhur dan Ashar Beliau
sallalloohu ‘alaihi wa sallam membacanya dengan tanpa suara. Para sahabat
mengetahui apa yang dibaca oleh Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam dalam
sholat-sholat yang tanpa suara dari gerakan jenggotnya dan terkadang Nabi
sallalloohu ‘alaihi wa sallam sendiri memperdengarkan bacaannya. Demikian
penjelasan Bukhari dan Abu Daud.
Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam juga membaca dengan mengangkat
(mengeraskan) suara pada sholat Jum’at , ’Idul Fitri, ’Idul Adha, Istisqa’
(sholat meminta hujan), dan sholat Kusuf (gerhana).
C.
Bacaan-Bacaan
Sholat Nabi sallalloohu ‘alaihi wa sallam
Bacaan sholat Rasulullooh
sallalloohu ‘alaihi wa sallam bermacam-macam. Kadang Nabi sallalloohu ‘alaihi
wa sallam membaca surat ar-Rum (60 ayat), kadang
ash-Shaffat (182 ayat), kadang surat
Zalzalah (7 ayat) dan lain-lain.
D.
Bacaan Tartil dan Memerdukan Suara
Perintah Allooh terhadap Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam adalah
agar membaca al-Qur’an dengan tartil, tidak pelan, dan tidak terlalu cepat.
Tetapi dibaca kalimat per kalimat sehingga bacaan satu surah lebih lama
daripada dibaca dengan biasa.
Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda ”Kelak akan dikatakan kepada orang yang membaca al-Qur’an ”Bacalah, telitilah dan tartillah
sebagaimana engkau mentartilkannya di dunia. Sesungguhnya kedudukanmu adalah
diakhir ayat yang engkau baca.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi).
Beliau menyuruh para sahabatnya untuk membaca al-Qur’an dengan suara merdu
dalam sabdanya ”Hiasilah al-Qur’an dengan
suaramu. Sesungguhnya suara yang bagus dapat menjadikan al-Qur’an bertambah
indah.” (HR Bukhari, Abu Daud & Hakim).
Beliau juga bersabda ”Sesungguhnya
orang yang bagus suaranya adalah apabila engkau mendengarkan suara bacaan
al-Qur’an sedangkan kamu mengira bahwa dia adalah orang yang takut kepada
Allooh.” (HR Thabrani, Ibnu Mubarak & Abu Nu’aim).
E.
Membetulkan Bacaan Imam Yang Salah
Abu Daud, Ibnu Hibban dan Thabrani meriwayatkan bahwa Rasulullooh
sallalloohu ‘alaihi wa sallam menyuruh membetulkan imam yang salah membaca
al-Qur’an. Beliau pernah melakukan sholat dan salah dalam membaca al-Qur’an.
Usai sholat Beliau bertanya kepada Ubay, ”Apakah
engkau sholat bermakmum dengan saya?” Ubay menjawab ”Benar” Beliau menimpali ”
Kenapa tidak membetulkan bacaanku yang salah?”
F.
Berta’awwudz Dan Meludah Saat Sholat Untuk Menghilangkan Gangguan
Dalam hadits riwayat Muslim dan Ahmad disebutkan bahwa Utsman bin Abi ’Ash
berkata kepada Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam ”Wahai Rasulullah, sesungguhnya setan telah menggangguku ketika aku
membaca al-Qur’an saat sholat sehingga sholatku kacau.” Rasulullooh sallalloohu
‘alaihi wa sallam bersabda ”Itulah setan yang bernama Khinzib. Jika engkau
merasakan keahdirannya, bacalah ta’awwudz dan meludahlah ke sebelah kirimu tiga
kali.”
Utsman berkata ”Aku kemudian melakukannya sehingga Allooh mengeyahkan setan
dariku.”
TATA CARA RUKU DAN BACAANNYA
Setelah membaca
al-Qur’an, Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam diam sejenak. Lalu Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya
sebagaimana yang telah dijelaskan pada penjelasan di depan dalam Takbiratul
Ihram. Kemudian mengucapkan Alloohu Akbar,
lalu ruku.
A.
Tata Cara Ruku
Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam meletakkan kedua telapak
tangannya pada kedua lututnya . Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam
memerintahkan sahabatnya melakukan yang demikian. Juga memerintahkan orang yang
tidak benar sholatnya.
Kedua telapak tangan Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam tampak menekan kedua lututnya (seakan-akan mencengkram
keduanya). Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam merenggangkan jari-jarinya.
Lalu memerintahkannya kepada orang yang tidak benar sholatnya dalam sabdanya ”Jika engkau ruku letakkanlah kedua tangnmu
di atas lututumu. Kemudian renggangkanlah jari-jarimu sampai tulang belakangmu
menjadi mapan ditempatnya.” (HR Ibnu Khuzaimah & Ibnu Hibban).
Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam merenggangkan kedua sikunya dari
lambungnya. Ketika ruku Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam membentangkan dan
meluruskan punggungnya sampai-sampai jika dituangkan air dari diatasnya tidak
akan tumpah, Lalu, Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada orang
yang tidak benar sholatnya ”Jika engkau
ruku, letakkanlah tangamu pada kedua lututmu. Lalu, bentanglah punggungmu dan
tekanlah tanganmu dalam rukumu.” (HR Ahmad & Abu Daud).
Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam tidak membungkuk terlalu kebawah
dan tidak pula mendongakkan terlalu keatas. Akan tetapi tengah-tengah di antara
keduanya.
B.
Wajib Thumaninah Dalam Ruku
Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam dengan thumaninah (tenang) dan
memerintahkan demikian kepada orang yang tidak benar sholatnya sebagaimana yang
dijelaskan diatas. Sabda Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam ”Sempurnakanlah ruku dan sujudmu. Demi
jiwaku yang berada dalam genggamanNya, sesungguhnya aku benar-benar melihat
kamu dari balik punggungku saat kamu ruku dan sujud.” (HR Bukhari &
Muslim).
Dalam riwayat Ath-Thayalisi dan Ahmad, Abu Hurairah berkata ”Kekasihku Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi
wa sallam melarangku bersujud dengan cepat seperti halnya ayam yang mematuk
makanan, menoleh-nolah seperti musang dan duduk sepeti kera.”
Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam juga bersabda ”Pencuri yang
paling jahat adalah pencurian yang mencuri dalam sholatnya.” Para
sahabat bertanya ”Wahai Rasulullah bagaimana yang dimaksud dengan mencuri dalam
sholat itu?” Rasulullah menjawab ”Yaitu orang yang tidak sempurna ruku dan
sujudnya dalam sholat.” (HR Thabrani dan Hakim).
Ketika sedang sholat, Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam melirik orang
yang sujud dan ruku dengan punggung tidak lurus. Usai sholat Beliau sallalloohu
‘alaihi wa sallam bersabda ”Wahai kaum
muslimin, sesungguhnya tidak sah sholat seseorang yang tidak meluruskan
punggungnya dalam ruku dan sujud.” (HR Ibnu Majah & Ahmad).
C.
Bacaan-Bacaan Ruku
Dalam ruku Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam membaca bacaan yang
beragam. Terkadang membaca sebuah bacaan dan di lain kesempatan membaca bacaan
lain. Diantara bacaan Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam adalah
a.
((سُبْحَانَ
رَبِّيَ الْعَظِيْمِ)) 3× (”Mahasuci Tuhanku Yang Mahaagung”) (Dibaca 3 kali) (HR. Ahmad, Abu Daud & Ibnu Majah). Terkadang
membacanya lebih dari 3 kali (yang menunjukkan lamanya sholat Beliau
sallalloohu ‘alaihi wa sallam).
Bahkan pada suatu kali dalam sholat lail
Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam membacanya dengan mengulang-ulang sehingga
lama ruku’nya sama dengan lama berdirinya. Padahal Beliau membaca 3 surah
panjang (al-Baqarah, an-Nisaa dan Ali Imran) diselingi dengan doa-doa dan
istighfar.
b.
((سُبْحَانَ
رَبِّيَ الْعَظِيْم وَبِحَمْدِه )) 3× (”Mahasuci dan Mahaagung Allooh, segala puji bagiNya”) (Dibaca 3 kali) (HR Abu Daud, Daruquthni, Ahmad & Thabrani).
c.
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ. (”Mahasuci Engkau wahai Tuhan dan dengan memujiMu
ampunilah aku”) (HR Bukhari & Muslim)
Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam memperbanyak dao ini dalam ruku
dan sujudnya.
d. Dan lain-lain.
D.
Larangan Membaca Al-Qur’an Saat Ruku
Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam melarang membaca al-Qur’an saat ruku
dan sujud dalam sabdanya ”Ketahuilah sesungguhnya
aku melarang bacaan al-Qur’an saat ruku. Hendalah kalian mengagungkan Tuhan
Yang Mahaperkasa. Sedangkan dalam bersujud hendaknya bersungguh-sungguhlah
berdoa karena doa itu tentu dikabulkan.” (HR Muslim & Abu Uwanah).
E.
Bangun dari Ruku (I’tidal) dan Bacaannya
Kemudian Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam bangkit dari ruku sambil
mengucapkan
سَمِعَ اللهُ لِمَنْ
حَمِدَهُ. (Allooh mendengar ornag yang memujiNya”) (HR Bukhari & Muslim).
Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam memerintahkan demikian kepada orang
yang tidak benar sholatnya dalam sabdanya ”Tidak
sempurna sholat seseorang sehingga bertakbir. Kemudian ruku lalu mengucapkan
Sami’a Alloohu liman hamidah (Allooh mendengar orang yang memujiNya) sampai
berdiri dengan tegak” (HR Abu Daud dan Hakim)
Ketika berdiri dengan tegak Beliau mengucapkan رَبَّنَا وَلَكَ
الْحَمْدُ (”Wahai Tuhan kami dan segala puji hanyalah
milik-Mu”) (HR Bukhari dan Ahmad)
Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam memerintahkan demikian kepada
semua orang yang sholat, baik makmum maupun bukan makmum dalam sabdanya ”Sholatlah seperti kalian melihatku sholat”
(HR Bukhari & Ahmad).
Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam juga bersabda ”Sesungguhnya imam dijadikan tiada lain
untuk diikuti. Jika imam mengucapkan ’Sami’a Allhu liman Hamidah’, maka
ucapkanlah Alloohumma walakal hamdu.’ Pasti Allooh mendengar ucapan kalian.
Sesungguhnya Allooh berfirman melalui ucapan RasulNya, ’Sami’a Alloohu liman
Hamidah’.” (HR Muslim, Abu Uwanah, Ahmad & Abu Daud).
Penyebab masalah ini dipertegas dalam hadits lain ”Sesungguhnya barangsiapa yang ucapannya itu berbarengan dengan ucapan
malaikat, maka ia akan diampuni dosa-dosa yang telah dilakukannya sebelumnya.”
(HR Bukhari & Muslim).
Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam mengangkat
tangan saat berdiri i’tidal seperti telah dijelaskan pada takbiratul
ihram didepan, dengan mengucapkan bacaan berikut :
1.
رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ (HR Bukhari & Muslim). Masalah
mengangkat tangan ini sanadnya benar-benar dari Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi
wa sallam. Pendapat ini juga diperkuat oleh jumhur ulama dan sebagian penganut
mazhab Hanafi.
2.
رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ (HR. Bukhari &
Muslim).
3.
اللَّهُمَّ ربَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ (HR Bukhari & Muslim)
4.
اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ (HR Bukhari &
Muslim).
5. Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam memerintahkan berbuat demikian
dalam sabdanya ”Apabila imam mengucapkan ’Sami’a
Alloohu liman hamidah’ maka ucapkanlah ’Alloohumma Rabbana lakal hamdu’.
Barangsiapa yang ucapannya bersamaan dengan ucapan malaikat niscaya akan
diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari & Muslim).
6. Terkadang Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam menambah dengan lafal
مِلْءَ السَّمَاوَاتِ
وَمِلْءَ اْلأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ
”Mencakup seluruh
langit dan bumi dan semua yang Engkau kehendaki selain dari itu.” (HR Muslim & Abu Uwanah).
7. Dan lain-lain.
F.
Memperpanjang Berdiri I’tidal dan Kewajiban Thumuninah.
Lama berdiri i’tidal Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam sama seperti
rukunya, sebagaimana yang telah dijelaskan di atas. Bahkan kadang Rasulullooh
sallalloohu ‘alaihi wa sallam berdiri lama sampai dianggap lupa oleh sahabatnya
karena lamanya Beliau berdiri. Demikian yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim
dan Ahmad.
Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda ”Kemudian tegakkanlah kepalamu sampai engkau berdiri tegak (sampai
semua tulang kembali menempati tempatnya masing-masing). (Dalam sebuah riwayat
dikatakan : Apabila kamu berdiri i’tidal, maka tegakkanlah
kepalamu sampai tulang-tulang kembali kepada posisinya semula).” (HR
Bukhari, Muslim, Hakim & Ahmad).
Beliau juga bersabda ”Allooh tidak
akan melihat sholat seorang hamba yang tidak meluruskan tulang punggungnya
antara ruku dan sujudnya.” (HR Ahmad & Thabrani)
TATA CARA DAN BACAAN SUJUD SERTA DUDUK DIANTARA DUA SUJUD
Setelah i’tidal Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam bertakbir dan
turun bersujud. Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam memerintahkan yang
demikian ini kepada orang yang tidak benar sholatnya dalam sabdanya ”Tidaklah sempurna sholat seseorang sampai
ia mengucapkan ’Sami’ Alloohu liman hamidah’ sampai tegak berdiri. Kemudian
mengucapkan takbir, lalu bersujud sampai ruas tulang belakangnya kembali
sempuran.” (HR Abu Daud & Hakim).
Dalam hadits riwayat Abu Ya’la dan Ibnu Khuzaimah disebutkan bahwa jika
hendak sujud, Nabi sallalloohu ‘alaihi wa sallam mengucapkan takbir (dan Beliau
sallalloohu ‘alaihi wa sallam merenggangkan tangannya dari lambungnya), lalu
bersujud. Sedangkan dalam riwayat Nasa’i dan Daruquthni disebutkan bahwa kadang
Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tanganya bila hendak
bersujud.
A.
Turun Bersujud Dengan Mendahulukan Kedua Tangan
Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam meletakkan kedua tangannya di
atas tanah sebelum kedua lututnya. Beliaupun memerintahkan sahabatnya melakukan
hal demikian ”Apabila seseorang dari
kalian hendak bersujud, hendaknya tidak melakukannya seperti duduknya unta.
Tetapi hendaknya meletakkan tangannya sebelum meletakkan kedua lututnya.”
(HR Abu Daud dan Nasa’i).
Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Sesungguhnya kedua tangan turut bersujud sebagaimana sujudnya wajah.
Apabila seseorang dari kalian meletakkan wajahnya diatas tanah, maka hendaklah
meletakkan juga kedua tangannya. Apabila mengangkat wajahnya maka hendaknya
mengangkat juga kedua tangannya.” (HR Ibnu Khuzaimah, Ahmad & Siraj).
Dalam bersujud Beliau meletakkan telapak tangannya, mengembangkannya[15],
serta mengarahkannya ke arah kiblat[16].
Beliau meletakkan kedua tangannya sejajar dengan kedua bahunya[17],
dan terkadang sejajar dengan kedua telinganya[18].
Dalam hadits riwayat Abu Daud dan Ahmad disebutkan bahwa Nabi sallalloohu
‘alaihi wa sallam menekan hidung dan dahinya ke tanah. Beliau berkata kepada
orang yang sholatnya tidak benar ”Jika
engkau bersujud maka lakukanlah dengan menekan.”
Dalam riwayat lain disebutkan ”Bila engkau bersujud, maka lakukanlah
dengan cara menekan wajah dan kedua tanganmu sampai seluruh ruas tulangmu
kembali ke tempatnya.” (HR Ibnu Khuzaimah.)
Beliau bersabda, ”Tidak sah sholat
seseorang yang hidungnya tidak menyentuh tanah sebagai mana halnya dahinya.”
(HR Daruquthni, Thabrani dan Abu Na’im).
Beliau menekan kedua lututnya dan ujung kedua telapak kakinya. Menghadapkan
ujung jarinya ke arah kiblat, merapatkan tumitnya dan menegakkan telapak
kakinya.Beliau pun menyuruh berbuat demikian.
Inilah tujuh anggota yang dipergunakan Nabi sallalloohu ‘alaihi wa sallam
untuk bersujud, yaitu dua telapak tangan, dua lutut, dua kaki, dahi dan hidung.
Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam menjadikan dua anggota terakhir (dahi
dan hidung) menjadi satu dalam sujud. Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam
bersabda ”Aku perintahkan untuk bersujud,
(dalam riwayat lain disebutkan : Kami diperintahkan untuk bersujud dengan
menggunakan 7 anggota badan) yaitu dahi, (dan menunjuk hidungnya dengan tangan)
serta kedua tangan, (Dalam lafal lain disebutkan : Dua telapak tangan, dua
lutut, ujung kedua telapak kaki, dan kami tidak boleh menyibak[19] baju dan rambut).” (HR Bukhari dan
Muslim).
Beliau bersabda ”Apabila seorang
hamba bersujud, hendaklah menyertakan 7 anggota badan (wajah, kedua telapak
tangan, kedua lutut dan kedua telapak tangan).” (HR Muslim, Abu Uwanah dan
Ibnu Hibban).
Dalam hadits riwayat Muslim, Abu Uwanah dan Ibnu Hibban disebutkan bahwa Nabi
sallalloohu ‘alaihi wa sallam berkomentar terhadap orang yang sholat sedangkan
rambutnya diikat dari belakang, ”Orang
yang sholatnya seperti itu sama halnya dengan orang yang sholat menggelung
rambunya.”[20] Beliau juga bersabda ”Yang demikain ini menjadi tempat duduk
setan.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi).
Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam tidak membentangkan kedua
lengannya[21],
akan tetapi Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua lengannya,
menjauhkan dari sisinya sehingga tampak bulu ketiak putihnya dari belakang[22].
Apabila seekor anak domba menerobos di bawah lengannya, tentu dengan mudah
dapat melewatinya[23].
Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam melebarkan lengannya sehingga seorang
sahabatnya berkata ”Mungkin kami bisa
menerobos di bawah ketiaknya, saking lebarnya jarak antara lengan dan
lambungnya dalam bersujud.” Demikian yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan
Ibnu Majah. Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam memerintahkan melakukan hal
itu dalam sabdanya ”Apabila engkau
bersujud, letakkanlah tanganmu dan angkatlah kedua sikumu.” (HR Muslim dan
Abu Uwanah).
”Bersujudlah kamu dengan lurus dan janganlah
membentangkan kedua lenganmu seperti membentangkannya (dalam lafal lain
disebutkan : Seperti membentangkan kakinya) anjing.” (HR Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Ahmad).
”Janganlah seseorang dari kalian membentangkan kedua
lengannya seperti anjing membentangkan kakinya.” (HR Ahmad dan Tirmidzi).
”Janganlah kamu membentangkan kedua lenganmu (seperti
binatang). Tetapi tegakkanlah lengamu dan jauhkanlah dari lambungmu. Karena
bila engkau melakukan seperti itu maka setiap anggota badan ikut bersujud
denganmu.” (HR Ibnu Khuzaimah dan Hakim)
B.
Kewajiban Thumuninah Dalam Sujud
Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam selalu memerintahkan agar
menyempurnakan ruku dan sujud. Orang yang tidak melakukannya diperumpamakan
seperti orang yang lapar. Ia memakan satu atau dua butir kurma yang tidak
mengenyangkan sama sekali. Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda ”Orang yang demikian itu adalah
pencuri yang paling buruk.”
Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam menyatakan tieak sah sholat orang yang
ruku dan sujudnya tidak lurus, sebagaimana yang telah diuraikan pada bab Ruku.
C.
Doa-doa Sujud
Dalam sujudnya Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam membaca beberapa
zikir dan doa yang berbeda-beda, diantaranya sebagai berikut :
1.
سُبْحَانَ رَبِّيَ اْلأَعْلَى. (3×) (”Mahasuci Tuhanku Yang Mahatinggi”), tiga kali atau lebih.
Pernah dalam sholat malam Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam
mengucapkan berulang-ulang sehingga lama sujudnya hampir sama dengan
berdirinya. Padahal dalam berdirinya Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam
membaca 3 surah yang panjang (al-Baqarah, an-Nisaa dan Ali Imran), diselingi
dengan bacaan doa dan istighfar sebagaimana yang dijelaskan dalam sholat lail (malam, tahajjud)
2.
سُبْحَانَ رَبِّيَ اْلأَعْلَى وَبِحَمْدِه (3×) (”Mahasuci Tuhanku
Yang Mahatinggi dan segala puji bagiNya”) (tiga kali).
3. سُبُّوْحٌ
قُدُّوْسٌ رَبُّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوْحِ. (”Mahasuci dan Mahakudus, Tuhan malaikat dan ruh).
4.
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ. (”Mahasuci Engkau,
wahai Tuhan, Tuhan kami dan dengan memujiMu wahai Tuhan, ampunilah aku”). (HR Bukhari dan Muslim). Bacaan ini banyak Beliau sallalloohu ‘alaihi wa
sallam baca pada saat ruku dan sujudnya sebagaimana yang diperintahkan
al-Qur’an.
5.
Dan lain-lain.
D.
Larangan Membaca Al-Qur’an Ketika Sujud
Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam melarang membaca al-Qur’an ketika
ruku dan sujud. Namun Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam menyuruh untuk
bersungguh-sungguh dan memperbanayk doa waktu sujud sebagaimana diterangkan
dalam bab Ruku.
Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda ”Seorang hamba yang paling dekat dengan Tuhannya adalah ketika ia
sedang sujud maka perbanyaklah doa (dalam sujud).” (HR Muslim, Abu Uwanah
dan Baihaqi).
E.
Melamakan Sujud
Lama Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam melakukan sujud adalah
hampir sama dengan lama Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam melakukan ruku.
Bahkan lebih lama lagi jika Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam sedang
menghadapi masalah yang sulit sebagaimana dikatakan oleh sahabat Beliau ” Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam
keluar menemui pada waktu sholat Dhuhur atau Ashar. Ketika itu Beliau
menggendong Hasan dan Husen. Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam maju
lalu meletakkan gendongannya disebelah kanannya. Kemudian bertakbir untuk
melakukan sholat, lalu sujud dalam sholatnya itu. Beliau sallalloohu ‘alaihi wa
sallam bersujud lama sekali.” Perawi berkata ”Aku mengangkat kepalaku diantara
orang banyak. Tapi ternyata anak kecil itu berada diatas punggung Beliau,
padahal Beliau sedang sujud. Kemudian aku kembali sujud. Ketika Rasulullooh
sallalloohu ‘alaihi wa sallam selesai melakukan sholat, orang-orang bertanya
”Wahai Rasulullah engkau melakukan sujud dalam sholatmu ini lama sekali
sehingga kami mengira bahwa telah terjadi sesuatu atau engkau sedang menerima
wahyu.” Beliau bersabda ”Semua itu tidak terjadi tetapi cucuku ini naik diatas
punggungku dan aku tidak senang tergesa-gesa sampai anak ini puas dengan
keinginannya.”
F.
Keutamaan Sujud
Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda ”Tidak ada seorang pun dari umatku kecuali aku mengenalnya pada hari
kiamat kelak.” Para sahabat bertanya ”Wahai Rasulullah bagaimana Anda mengenal
mereka padahal mereka berada diantara banyak makhluk?” Beliau bersabda
”Bagaimana pendapatmu jika diantara kumpulan kuda yang berwarna hitam terdapat
seekor kuda yang berwarna putih di dahinya dan pada kaki-kakinya” Bukankah
engkau dapat mengenalinya?” Jawab mereka ”Ya.” Beliau bersabda ”Sesungguhnya
pada hari itu umatku memancarkan cahaya putih dari wajahnya yang bekas sujud
dan cahaya putih diwajar, tangan dan kaki yang bekas wudhu.” (HR Ahmad dan
Tirmidzi).
Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam juga bersabda ”Jika Allooh ingin memberikan rahmat kepada ahli neraka maka Allooh
memerintahkan malaikat untuk mengeluarkan mereka yang menyembah Allooh lalu
malaikat mengeluarkan mereka. Mereka dikenal karena ada bekas sujud pada
wajahnya dan Allooh mengharamkan neraka untuk memakan tanda bekas sujud
sehingga mereka dikeluarkan dari neraka. Semua anggota anak Adam akan dimakan
oleh api neraka kecuali tanda bekas sujud.” (HR Bukhari & Muslim).
G.
Sujud Diatas Tanah Dan Tikar
Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam biasa sujud diatas tanah karena
masjid Beliau tidak beralaskan tikar atau lainnya. Banyak hadits yang
menerangkan hal ini diantaranya hadist
Abu Said al-Khudri.
Dalam hadits riwayat Muslim dan Abu Uwanah disebutkan bahwa para sahabat
melakukan sholat berjamaah bersama Beliau ketika cuaca sangat panas. Jika
diantara mereka ada yang tidak sanggup menempelkan dahinya ke tanah, maka dia
membentangkan kainnya dan sujud diatas kain tersebut.
Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda ”Bumi seluruhnya telah dijadikan sebagai masjid dan alat untuk bersuci
(tayamum) bagiku dan seluruh umatku. Untuk itu dimana saja seseorang dari
umatku menemui waktu sholat maka disitulah masjidnya dan alat bersucinya.
Sebelumku mereka tidak dapat melakukan demikain karena meraka sholat di gereja-gereja
dan kuil-kuil.” (HR Ahmad dan Baihaqi).
Terkadang Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam melaksanakan sholat diatas
tanah yang becek. Hal ini pernah terjadi pada pagi hari tanggal 12 Ramadhan
ketika turun hujan dan halaman masjid tergenang air sedangkan atapnya terbuat
dari pelepah kurma. Sehingga Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam terpaksa
sujud diatas tanah yang becek. Abu Sa’id al-Khudri dalam riwayat Bukhari dan
Muslim berkata ”Saya melihat Rasulullah dan dikening serta hidung Beliau
terlihat bekas lumpur.”
Sementara itu dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa
kadang Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam sholat diatas khumrah (tikar atau anyaman selebar sapu
tangan) atau diatas tikar kecil. Nabi sallalloohu ‘alaihi wa sallam pernah
sujud diatas tikar yang sudah hitam karena sudah lama dipakai.
H.
Bangkit Dari Sujud (I’tidal)
Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam mengangkat kepalanya dari sujud
(i’tidal) seraya mengucapkan takbir. Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam memerintahkan
orang yang salah dalam sholatnya untuk melakukan yang demikian, ”Tidak sempurna sholat seseorang hinga sujud
sampai tulang punggungnya tenang, kemudian mengucapkan Allhu Akbar. Lalu
bangkit dari sujud sehingga duduk dengan tegak.” (HR Ahmad dan Abu Daud).
Terkadang Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya
seraya mengucapkan takbir. Kemudian membentangkan kaki kiri dan duduk diatas
telapaknya dengan tenang. Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam juga menyuruh
orang yang salah dalam sholatnya untuk melakukannya dan Beliau bersabda kepada
orang itu ”Jika kamu bersujud maka
hendaknya kamu menekan. Apabila bangkit dari sujud (i’tidal) maka duduklah
diatas betis kirimu.” (HR Bukhari dan Baihaqi).
Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam menegakkan kaki kanannya dan
menghadapkan jari-jari kanannya ke arah kiblat.
I.
Thumuninah Ketika Duduk Diantara Dua Sujud
Terkadang Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam duduk dengan menegakkan
telapak kaki dan tumit kedua kakinya. Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam
melakukan duduk diantara dua sujud dengan thumuninah sehingga tuliang
belakangnya rata dan mapan. Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam juga menyuruh
orang yang salah dalam sholatnya untuk melakukan hal itu. Beliau sallalloohu
‘alaihi wa sallam bersabda ”Tidak
sempurna sholat seseorang diantara kamu sehingga dia melakukan yang demikian.”
(HR Abu Daud dan Hakim).
Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam melamakan duduknya sehingga hampir
sama dengan sujudnya. Demikian yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim. Terkadang Beliau
sallalloohu ‘alaihi wa sallam diam lama sampai ada yang mengatakan ”Beliau
telah lupa.”
J.
Doa Ketika Duduk Diantara Dua Sujud
Ketika duduk diantara dua sujud Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam
membaca doa sebagai berikut :
1. اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَاهْدِنِيْ وَاجْبُرْنِيْ وَعَافِنِيْ وَارْزُقْنِيْ
وَارْفَعْنِي.
(“Ya Allooh, ampunilah
dosaku, beri-lah rahmat kepadaku, tunjukkanlah aku (ke jalan yang benar),
cukupkanlah aku, selamatkan aku (tubuh sehat dan kelu-arga terhindar dari
musibah), berilah aku rezeki (yang halal) dan angkatlah derajatku.) (HR. Abu Daud, Tirmidzi & Ibnu Majah).
2.
رَبِّ اغْفِرْ لِيْ رَبِّ اغْفِرْ لِيْ.
(Wahai Tuhan,
ampunilah aku, ampunilah aku”) (HR. Ahmad & Ibnu
Majah).
Beliau kadang membaca
kedua doa tersebut ketika sholat malam[24]. Kemudian Beliau bertakbir dan sujud yang kedua kalinya. Beliau menyuruh
orang yang salah dalam sholatnya untuk melakukan yang demikian. Beliau
sallalloohu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepadanya setelah menyuruhnya untuk
melakukan thumuninah ketika duduk antara dua sujud ”Kemudian hendaknya kamu mengucapkan Alloohu Akbar. Lalu sujud sehingga
ruas-ruas tulang punggungmu rata atau mapan. Kemudian melakukan hal itu dalam
semua sholat kamu.” (HR Abu Daud dan Hakim).
Nabi sallalloohu ‘alaihi wa sallam kadang mengangkat kedua tangannya seraya
mengucapkan takbir. Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam melakukan sujud kedua
sebagaimana sujud pertama kemudian bangkit sambil mengucapkan takbir.
Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam menyruh melakukan itu kepada orang
yang salah dalam sholatnya sebagaimana perkataan Beliau kepada orang tersebut
setelah menyuruhnya untuk melakukan sujud yang
kedua. Kemudian Beliau mengangkat kepalanya dan bertakbir. Beliau
mengatakan kepadanya ”Kemudian lakukanlah
hal itu dalam setiap ruku dan sujud. Jika kamu melakukannya maka sempurnalah
sholatmu. Tapi jika kamu menguranginya sedikit saja dari hal itu maka kamu
telah mengurangi sholatmu.” (HR Ahmad dan Tirmidzi).
Setelah itu Beliau
sallalloohu ‘alaihi wa sallam duduk tegak. Yaitu duduk diatas telapak kaki
kirinya dengan tegak sampai setiap ruas tulang punggungnya mapan. Kemudian Nabi sallalloohu ‘alaihi wa sallam bangkit ke rakaat kedua dengan
tangan bertumpu ke tanah. Demikian diriwayatkan Bukhari dan Syafi’i.
Menurut riwayat Abu Ishaq dan Bihaqi Nabi sallalloohu ‘alaihi wa sallam
bertumpu pada kedua tangannya jika berdiri ke rakaat berikutnya. Lalu ketika
berdiri pada rakaat kedua, Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam mengawali
bacaan dengan alhamdulillah tanpa diam lebih dahulu. Demikian menurut Muslim
dan Abu Uwanah. Pada rakaat kedua ini Nabi sallalloohu ‘alaihi wa sallam
melakukan seperti yang Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam lakukan pada rakaat
pertama, hanya saja bacaannya lebih pendek.
Nabi sallalloohu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan orang yang sholatnya
salah untuk membaca al-Faatihah pada setiap rakaat sebagaimana sabda Beliau
kepada orang tersebut setelah membaca al-Faatihah pada rakaat pertama, ”Kemudian lakukanlah seperti itu pada
seluruh sholatmu.” (HR Bukhari dan Muslim).
Dalam riwayat lain disebutkan ”Pada
setiap rakaat dalam sholatmu.” (HR. Ahmad). Dalam riwayat lain Beliau
sallalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda ”Pada
setiap rakaat ada bacaan (al-Faatihah).” (HR Ibnu Majah dan Ibu Hibban).
TASYAHHUD AWAL
Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam duduk tasyahud setelah rakaat
kedua, jika sholat yang dilakukannya hanya dua rakaat, seperti sholat Subuh.
Menurut Nasa’i Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam duduk iftirasy’ (duduk diatas telapak kaki kiri yang dihamparkan dalam
telapak kaki kanan yang ditegakkan), seperti ketika Beliau duduk diantara dua
sujud. Demikian juga apabila Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam duduk pada
tasyahhud awal dalam sholat tiga atau empat rakaat.
Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam menyuruh orang yang salah sholatnya
untuk melakukan hal itu sebagaimana sabdanya ”Bila kamu duduk dipertengahan sholat, hendaklah kamu melakukan
thumuninah. Lalu hamparkanlah telapak kaki kirimu kemudian bacalah tasyahud.”
(HR Abu Daud dan Baihaqi).
Dalam hadits riwayat Ibnu Abi Syaibah, Thayalisi dan Ahmad, Abu Hurairah radhialloohu’anhu
mengatakan bahwa Nabi sallalloohu ‘alaihi wa sallam telah melarangnya duduk
diatas tumit seperti duduknya anjing. Dalam hadits Muslim dan Abu Uwanah, Nabi
sallalloohu ‘alaihi wa sallam melarang duduk diatas tumit seperti duduknya
setan.
Muslim dan Abu Uwanah meriwayatkan bahwa apabila duduk tasyahhud, Nabi
sallalloohu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangan kanan diatas paha kanannya (dalam
riwayat lain disebutkan : pada lutut kanannya) dan meletakkan telapak tangan
kirinya pada paha kiri (dalam riwayat lain disebutkan : pada lutut kirinya).
Merenggangkan telapak tangannya diatas lutut.
Menurut Nasa’i, Nabi sallalloohu ‘alaihi wa sallam meletakkan siku kanan
diatas pada kanannya. Nabi sallalloohu ‘alaihi wa sallam melarang bertumpu pada
tangan kirinya pada waktu duduk tasyahud dalam sholat sebagaimana sabdanya ”Cara semacam itu adalah cara sholat orang
Yahudi.” (HR Baihaqi dan Hakim).
Dalam hadits lain disebutkan ”Janganlah engkau duduk seperti itu karena
duduk seperti itu adalah duduknya orang yang sedang diazab.” (HR Ahmad dan Abu
Daud).
Dalam hadits lain disebutkan ”Duduk seperti itu adalah cara duduk
orang-orang yang dimurkai Allooh.” (HR Abdur Razzaq).
A.
Menggerakkan Jari Telunjuk Ketika Duduk Tasyahhud.
Dalam hadits riwayat Muslim dan Abu Uwanah disebutkan bahwa Nabi
sallalloohu ‘alaihi wa sallam merenggangkan telapak tangan kiri diatas lutut
kirinya. Tetapi Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam menggenggam semua jari
tangan kanannya dan mengacungkan telunjuknya ke kiblat. Lalu mengarahkan
pandangan mata ke telunjuknya.
Pada riwayat yang sama disebutkan bahwa ketika Beliau sallalloohu ‘alaihi
wa sallam mengacungkan telunjuknya ibu jarinya memegang jari tengah. Terkadang
ibu jari dan jari tengahnya membentuk lingkaran.
Abu Daud dan Nasa’i meriwayatkan bahwa Nabi sallalloohu ‘alaihi wa sallam
menggerak-gerakkan jari telunjuknya sembil berdoa. Beliau bersabda ”(Gerakan
jari telunjuk) lebih ditakuti setan daripada pukulan besi.” (HR Ahmad dan
Bukhari).
Sebagian sahabat Nabi sallalloohu ‘alaihi wa sallam telah mengambil suatu
perbuatan atau meniru perbuatan sahabat yang lain yaitu menggerakkan
telunjuknya sambil berdoa. Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam melakukan ini
dalam dua tasyahhudnya (tasyahhud awal dan akhir).
Dalam hadits riwayat Ibnu Abi Syaibah dan Nasa’i disebutkan bahwa Nabi
sallalloohu ‘alaihi wa sallam pernah melihat seorang sahabat berdoa sambil
mengacungkan dua jarinya. Lalu Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda
sambil mengacungkan telunjuknya kepada orang itu ”Satu saja! Satu saja!.”
B.
Kewajiban
Duduk Tasyahhud Awal Dan Membaca Doa
Nabi sallalloohu
‘alaihi wa sallam membaca doa tahiyat setiap dua rakaat. Yang pertama kali Beliau
sallalloohu ‘alaihi wa sallam lakukan dalam duduk (pada rakaat kedua) adalah
membaca “At-tahiyyatu lillah.” Apabila Beliau lupa melakukan duduk (tasyahhud) pada dua rakaat yang
pertama maka Beliau melakukan sujud sahwi. Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam
menyuruh melakukan itu, ”Bila kamu
sekalian duduk pada setiap dua rakaat ucapkanlah at-tahiyyat. Kemudian
hendaklah seseorang memilih doa yang disenanginya dan memohon (apa yang
diminta) kepada Allooh Yang Mahaperkasa dan Mahamulia.” (HR Nasa’i, Ahmad,
dan Thabrani).
Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Nabi sallalloohu
‘alaihi wa sallam mengajarkan tasyahhud kepada para sahabatnya seperti Beliau
mengajarkan surah-surah al-Qur’an. Menurut sunnah (hadits riwayat Abu Daud dan
Hakim), bacaan tasyahhud ini diucapkan dengan samar.
C.
Macam-Macam Bacaan Tasyahhud
Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada para
sahabatnya berbagai macam bacaan tasyahhud.
1.
Tasyahhud Ibnu Mas’ud
Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam
mengajarkan tasyahhud sambil menggenggam tangannya seperti Beliau mengajarkan
surah al-Qur’an,
التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ، وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلاَمُ
عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلاَمُ
عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ
إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
“Segala penghormatan
hanya milik Allooh, juga segala pengagungan dan kebaikan. Semoga kesejahteraan
terlim-pahkan kepadamu, wahai Nabi, begitu juga rahmat dan berkahNya.
Kesejah-teraan semoga terlimpahkan kepada kita dan hamba-hamba Allooh yang
shalih. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang hak disembah selain Allooh dan aku
bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya. (HR. Bukhari)
2.
Tasyahhud Ibnu Abbas.
Ibnu Abbas berkata ”Rasulullah telah mengajarkan kepada kami tasyahhud
sebagaimana Beliau mengajarkan kepada kami surah al-Qur’an dimana bacaan
tersebut berbunyi,
”Attahiyyaatul mubaarakaatush sholawaatuth thoyyibaatulillah,
assalaamu’alaika ayyuhan nabiyyu
warahmatullaahi bawarakaatuh ...... (Segala ucapan penghormatan, berkah dan
karunia, ucapan pengagungan dan pujian hanyalah milik Allooh. Semua
perlindungan dan pmeliharaan akan diberikan untukmu, wahai Nabi, begitu pula
rahmat Allooh dan karuniaNya. .....) (dan
seterusnya).
3.
Tasyahhud Ibnu Umar
Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam mengucapkan dalam tasyahhudnya,
”Attahiyyatulillah, washolawaatu wath-thoyyibaatu, assalaamu’alaika ayyuhannabiyyu warahmatullaahi
wabarakaatuh ..... (Semua ucapan penghormatan milik Allooh, begitu pula kurnia
dan pengagungan. Segala pertolongan dan pemeliharaan akan diberikan untukmu,
wahai Nabi ..........) (dan seterusnya).
4.
Dan lain-lain.
Perlu diperhatikan :[25]
Lafal assalaamu’alaika
ini hanya
diucapkan pada saat Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam masih hidup saja oleh
para sahabat. Ketika Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam sudah meninggal,
para sahabat tidak lagi menggunakan kata-kata assalaamu’alaika lagi tetapi menggantinya dengan menggunakan kata assalaamu’alannabi.
Demikian yang telah dijelaskan oleh Ibnu Mas’ud.
Ibnu Mas’ud berkata ”(Tasyahhud No. 1
itu digunakan) Pada saat itu Beliau (Nabi sallalloohu ‘alaihi wa sallam) berada
bersama kami, namun setelah Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam wafat, kami
mengucapkan ’Assalaamu’alannabi ....... ( sampai
dengan selesei)’.” Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim
dan Ibnu Abi Syaibah, II/90/I juga oleh Siraj dan Abu Ya’la dalam Musnadnya II, halaman 528 hadits ini
ditakhrij dalam kitab Irwaa’ul Ghaliil
No. 321.
Demikian juga Ibnu Hajar yang berkata ”Benar telah sahih riwayat itu tanpa
keraguan (karena telah tetap riwayat tersebut dalam sahih al-Bukhari). Dan
sungguh aku telah jumpai mutaba’an (riwayat yang lain) yang menguatkannya.”
’Abdur razzaq berkata : Ibnu Juraij mengabarkan kepadaku, ia berkata, ’Atha’
mengabarkan kepadaku bahwasannya para sahabat dahulu ketika Nabi sallalloohu
‘alaihi wa sallam masih hidup mengucapkan assalaamu’alaika ayyuhannabiyyu. Setelah Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam wafat
mereka mengucapkan assalaamu’alannabi. Riwayat ini
sanadnya shahih.
Untuk lebih jelas pembahasan masalah ini silahkan membaca buku ”Biografi
Syaikh Al-Albani Mujaddin Dan Ahli Hadits Abad Ini” karangan Mubarak bin
Mahfudh Bamuallim LC. Diterbitkan oleh Pustaka Imam Asy-Syafi’i, dalam bab
’Sunnah-Sunnah Yang Dihidupkan Oleh Imam Al-Albani’, halaman 101.
D.
Shalawat Nabi, Tempat Dan Lafalnya
Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam membaca shalawat untuk dirinya pada
tasyahhud awal dan lainnya. Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam
menganjurkan umatnya untuk melakukan itu seperti Beliau memerintahkan untuk
mengucapkan shalawat setelah mengucapkan salam kepadanya. Beliau sallalloohu
‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada para sahabat berbagai macam lafal
shalawat. Diantaranya adalah sebagai berikut,
1.
“Alloohumma
sholi ‘ala muhammad, wa’ala ahli baitih, wa’ala azwaajihi, wadzurriyyatihi,
kamaa shollaita ‘ala aali ibraahim, innaka hamiidun majiid, wabaarik ‘ala
muhammad, wa’ala azwaajihii wadzurriyyatihi, kamaa baarakta ‘ala baitihi aali
ibraahim innaka hamiidun majid(Ya Allooh berikanlah rahmat kepada Muhammad [26]
keluarganya, istrinya, dan keturunannya sebagaimana Engkau (Allooh) telah
berikan kepada keluarga Ibrahim. …… (dan seterusnya).
Inilah lafal
shalawat yang biasa dibaca Nabi sallalloohu ‘alaihi wa sallam.
2.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ
حَمِيْدُ مَجِيْدٌ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ
كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ
مَجِيْدٌ..
“Ya Allooh, berilah rahmat kepada Muhammad
dan keluarganya, sebagai-mana Engkau telah memberikan rahmat kepada Ibrahim dan
keluarganya. Se-sungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung. Berilah berkah
kepada Muhammad dan keluarganya (termasuk anak dan istri atau umatnya),
sebagai-mana Engkau telah memberi berkah kepada Ibrahim dan keluarganya.
Se-sungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung.” (HR. Bukhari)
3. اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى
آلِ إِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَزْوَاجِهِ
وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
“Ya Allooh, berilah rahmat kepada Muhammad,
istri-istri dan keturunannya, sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada
keluarga Ibrahim. Beri-lah berkah kepada Muhammad, istri-istri dan
keturunannya, sebagaimana Eng-kau telah memberkahi kepada keluarga Ibrahim.
Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung.” (HR. Bukhari &
Muslim)
4.
Dan
lain-lain.
E.
Bangkit Ke Rakaat Ketiga Dan Keempat
Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Nabi sallalloohu
‘alaihi wa sallam bangkit ke rakaat ketiga seraya mengucapkan takbir. Beliau
sallalloohu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang yang shalatnya salah untuk
melakukan itu sebagaimana sabdanya, ”Kemudian
lakukanlah seperti itu pada setiap rakaat dan sujud”.
Nabi sallalloohu ‘alaihi wa sallam mengucapkan takbir ketika bangkit dari
duduk, kemudian Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam berdiri. Beliau
sallalloohu ‘alaihi wa sallam kadang mengangkat kedua tangnnya bersamaan dengan
mengucapkan takbir. Demikian yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Abu Daud.
Apabila Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam hendak bangkit ke rakaat
keempat, Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam mengucapkan ”Alloohu akbar”. Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam mengangkat
kedua tangnnya bersamaan saat takbir. Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam
menyuruh orang yang shalatnya salah untuk melakukan seperti ini.
Kemudian Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam duduk tegak diatas kaki
kirinya sampai ruas tulang punggungnya mapan (lurus). Lalu, Beliau sallalloohu
‘alaihi wa sallam bangkit seraya bertumpu dengan tangannya ke tanah. Demikian
diriwayatkan Bukhari dan Abu Daud.
F.
Membaca Qunut Nazilah Pada Shalat Lima Waktu Karena Terjadi Musibah Yang
Menimpa Kaum Muslim
Imam Bukhari dan Ahmad meriwayatkan bahwa apabila Nabi sallalloohu ‘alaihi
wa sallam bermaksud memohon kebaikan atau kecelakaan bagi seseorang, Beliau
sallalloohu ‘alaihi wa sallam membaca qunut (do’a dalam shalat pada posisi
berdiri) pada rakaat terakhir setelah bangkit dari ruku, yaitu setelah
mengucapkan sami’allaahu liman hamidah,
allaahumma rabbana lakal hamdu. Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam
mengucapkannya dengan suara keras seraya mengangkat kedua tangannya dan para
makmum dibelakang Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam mengamininya (membaca
amin).
Nabi sallalloohu ‘alaihi wa sallam membaca qunut pada shalat-shalat wajib,
tetapi Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam hanya melakukannya apabila memohon
kebaikan atau malapetaka untuk suatu kaum. Demikian yang diriwayatkan oleh Abu
Daud, Daruquthni dan Ibnu Khuzaimah.
Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam pernah membaca do’a qunut sebagai
berikut ”Alloohumma anjil waliidabnal
waliid, wasalamatabna hisyam, wa’ayyaasyabna abii rabii’at, Alloohummasydud
wath ataka ‘ala mudhoro waj’alhaa ‘alaihim kasinii yuusuf, Alloohummal’an
lahyaana wara’laan wadzakwaana wa’ushoyyata ‘ashotillaha warasuulah” (Ya Allooh
selamatkanlah Walid bin Walid, Salamah bin Hisyam dan ’Ilyas bin Abi Rabi’ah.
Ya Allooh kuatkanlah cengkeramanMu depada suku Mudhar dan turunkanlah
malapetaka kepada mereka seperti malapetaka pada zaman Yusuf. Ya Allooh
kutuklah suku Lahyan dan Ra’l, Dzakwan dan para pendurhaka yang telah durhaka
kepada Allooh dan RasulNya) (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim).
Setelah membaca
qunut, Nabi sallalloohu ‘alaihi wa sallam mengucapkan Alloohu akbar, lalu
sujud. Demikian menurut Nasa’i dan Ahmad.
G.
Membaca Qunut Witir
Dalam hadits riwayat Ibnu Nashr dan Daruquthni disebutkan bahwa Nabi
sallalloohu ‘alaihi wa sallam terkadang[27] membaca qunut dalam
shalat witir. Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam melakukan qunut itu sebelum
ruku, sebagaimana diriwayatkan Abu Daud dan Nasa’i.
Hasan bin Ali
diajari do’a witir setelah membaca surah dalam shalat witir. Bacaan tersebut
adalah sebagai berikut
اَللَّهُمَّ اهْدِنِيْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِيْ فِيْمَنْ
عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِيْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لِيْ فِيْمَا
أَعْطَيْتَ، وَقِنِيْ شَرَّ مَا قَضَيْتَ، فَإِنَّكَ تَقْضِيْ وَلاَ يُقْضَى
عَلَيْكَ، إِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، [وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ]،
تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ
(“Ya
Allooh! Berilah aku petunjuk sebagaimana orang yang telah Engkau beri petunjuk,
berilah aku perlindungan (dari penyakit dan apa yang tidak disukai) sebagaimana
orang yang telah Engkau lindungi, sayangilah aku seba-gaimana orang yang telah
Engkau sayangi. Berilah berkah apa yang Eng-kau berikan kepadaku, jauhkan aku
dari kejelekan apa yang Engkau takdirkan, sesungguhnya Engkau yang menjatuh-kan
qadha, dan tidak ada orang yang memberikan hukuman kepadaMu. Se-sungguhnya
orang yang Engkau bela tidak akan terhina, dan orang yang Engkau musuhi tidak
akan mulia. Maha Suci Engkau, wahai Tuhan kami dan Maha Tinggi Engkau.) (HR.
Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Abi Syaibah).
TASYAHHUD AKHIR DAN SALAM
A.
Tasyahhud Akhir dan Kewajiban Membacanya
Setelah rakaat keempat, Nabi sallalloohu ‘alaihi wa sallam duduk tasyahhud
akhir. Dalam tasyahhud akhir ini Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam
memerintahkan untuk membaca bacaan seperti pada tasyahhud awal. Juga melakukan
kegiatan seperti di awal. Hanya saja pada tasyahhud akhir ini Beliau
sallalloohu ‘alaihi wa sallam duduk
tawaruk. Yaitu punggung telapak kaki kiri menempel ke tanah, ujung kaki
kiri dan kaki kanan berada pada satu sisi. Sehingga menjadikan kaki kiri berada
di bawah paha dan punggung betis kaki kanan. Juga dengan menegakkan telapak
kaki kanannya tetapi kadang mendatarkannya.
Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam menahan tubuhnya pada lutut kirinya
dengan telapak tangan kirinya. Nabi sallalloohu ‘alaihi wa sallam mencontohkan
shalawat seperti Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam mencontohkan hal itu
dalam tasyahhud awal, sebagaimana yang telah dijelaskan.
B.
Kewajiban
Membaca Shalawat Nabi pada Tasyahhud Akhir
Nabi sallalloohu
‘alaihi wa sallam pernah mendengar seseorang mengucapkan do’a dalam shalatnya
tetapi tanpa mengucapkan pujian kepada Allooh dan shalawat kepada Nabi
sallalloohu ‘alaihi wa sallam, lalu Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam
bersabda kepadanya, “Orang ini
tergesa-gesa”. Kemudian Beliau sallalloohu ‘alaihi wa sallam memanggil
orang itu lalu bersabda kepadanya dan orang yang lainnya, “Bila seseorang shalat, hendaklah ia memulainya dengan bacaan tahmid
dan pujian kepada Allooh ‘azza wa jalla. Kemudian mengucapkan shalawat Nabi
lalu memanjatkan do’a yang diinginkannya.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan Hakim).
Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam melihat seseorang sedang shalat.
Kemudian ia membaca hamdalah dan memuji Allooh lalu mengucapkan shalawat Nabi. Beliau
sallalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya ”Memohonlah niscara akan dikabulkan dan mintalah niscara akan diberi.”
(HR. Nasa’i).
C.
Kewajiban Memohon Perlindungan dari 4 Macam Hal
Nabi sallalloohu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Bila seseorang selesai membaca tasyahhud (akhir), hendaklah ia memohon
perlindungan kepada Allooh dari 4 perkara. Yaitu
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ
عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ
فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ.
(Ya Allooh aku berlindung kepadaMu dari siksa kubur, dari
siksa neraka Jahannam, dari fitnah hidup dan mati, dari fitnah Dajjal’.
Selanjutnya hendaklah ia berdo’a memohon kebaikan untuk dirinya sesuai
kepentingannya”. (HR. Muslim, Abu Uwanah, dan
Nasa’i).
Menurut Abu Daud dan Ahmad, Nabi sallalloohu ‘alaihi wa sallam biasa
membaca do’a tersebut dalam tasyahhudnya. Nabi sallalloohu ‘alaihi wa sallam
mengajarkan do’a tersebut kepada para sahabatnya seperti Beliau sallalloohu
‘alaihi wa sallam mengajarkan surah Al-Qur’an kepada mereka.
D.
Membaca
Salam
Nabi sallalloohu
‘alaihi wa sallam mengucapkan salam dengan menoleh ke kanan seraya mengucapkan “Assalaamu ‘alaikum warahmatullah”, sehingga
terlihat pipi kanannya yang putih. Juga menoleh ke kiri seraya mengucapakan “Assalaamu ‘alaikum warahmatullah”,
sehingga terlihat pipi kirinya yang putih. Demikian diriwayatkan oleh Muslim,
Abu Daud, Nasa’i dan Tirmidzi.
Menurut riwayat Abu
Daud terkadang Nabi sallalloohu ‘alaihi wa sallam menambahkan dengan “Wabarokaatuh” pada salam pertamanya.
Dalam hadits
riwayat Nasa’I disebutkan bahwa ketika menoleh ke kanan, terkadang Beliau
sallalloohu ‘alaihi wa sallam mengucapakan “Assalaamu
‘alaikum warahmatullah”, dan ketika menoleh ke kiri hanya mengucapakan “Assalaamu ‘alaikum”. Terkadang Beliau
sallalloohu ‘alaihi wa sallam mengucapkan salam sekali saja dengan ucapan “Assalaamu ‘alaikum” (dengan sedikit
memalingkan wajahnya ke kanan). Demikian yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah dan
Baihaqi.
Ketika mengucapkan salam para sahabat ada yang mengisyaratkan
(menggerakkan) dengan tangan mereka waktu menoleh ke kanan dan ke kiri. Hal ini
dilihat oleh Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam, lalu Beliau sallalloohu
‘alaihi wa sallam bersabda, ”Mengapa kamu
menggerakkan tanganmu seperti ekor kuda yang gelisah? Bila seseorang diantara
kamu mengucapkan salam, hendaknya ia berpaling kepada temannya dan tidak perlu
menggerakkan tangannya”. (Ketika mereka melakukan shalat berikutnya bersama
Rasulullooh sallalloohu ‘alaihi wa sallam, mereka tidak melakukannya lagi.
Dalam riwayat lain dikatakan ”Seseorang
diantara kamu cukup meletakkan tangannya diatas pahanya, kemudian mengucapkan
salam dengan menoleh ke saudaranya yang ada disebelah kanannya dan saudaranya
disebelah kirinya”. (HR. Abu Uwanah dan Thabrani).
PENUTUP
Semua sifat shalat Nabi sallalloohu ‘alaihi wa sallam yang telah diuraikan
diatas adalah berlaku bagi semua orang, baik pria maupun wanita. Sabda Nabi
sallalloohu ‘alaihi wa sallam yang mengatakan ”Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat”, bersifat
umum dan juga mencakup kaum wanita.
Ibrahim an-Nakhai berkata ”Wanita
melakukan pekerjaan dalam shalat seperti yang dilakukan kaum pria”.
Demikian diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dengan sanad shahih.
Sementara itu hadits yang mengatakan bahwa wanita harus menutup tangan
mereka saat sujud yang tidak sama dengan pria, maka sebenarnya hadits tersebut
mursal sebagaimana diriwayatkan Abu Daud. Begitu juga hadits yang diriwayatkan
Imam Ahmad dari Ibnu Umar bahwa dia menyuruh istrinya untuk duduk bersila dalam
shalat, sanadnya tidak sahih. Sedangkan Imam Bukhari dalam Tarikh ash-Shaghir halaman 95 meriwayatkan dengan sanad yang sahih
dari Ummud Darda bahwa dia duduk dalam shalat sebagaimana duduknya laki-laki,
padahal dia seorang wanita paham agama.
[1] Taklid inilah yang dimaksud oleh imam Thahawi
dalam ucapannya, “Tidak bertaklid kecuali orang yang fanatis dan bodoh”.
Disadur oleh Ibnu Abidin dalam Rasmu
al-Mufti (1/32) dari kumpulan risalahnya.
[2] Dalam kitab Raudhatu
ath-Thalibin (1/224 cet. Al-Maktab
al-Islami) Nawawi berkata, “Niat adalah maksud. Seseorang yang akan melakukan
sholat tertentu dalam hatinya telah terdetik maksud sholat yang akan
dilakukannya seperti sholat Dzuhur, sholat fardhu, dan lainnya. Kemudian maksud
ini dinyatakan bersamaan dengan awal takbir.”
[8] HR Abu Daud, Ibnu Khuzaimah, Tamam & Hakim dan disahkan olehnya
serta disetujui oleh Dzahabi.
[9] HR Bukhari & Abu Daud
[10] HR Muslim dan Abu Daud dan telah ditakhrij dalam Irwa’ (352).
[11] HR Abu Daud, Nasa’I dan Ibnu Khuzimah dengan sanad yang benar dan
disahkan oleh Ibnu Hibban.
[12] HR Malik, Bukhari dan Abu ‘Uwanah.
[13] HR Nasa’I dan Daruquthni dengan sanadnya
yang sahih.
[14] HR Abu Daud dan Ibnu Khuzaimah.
[15] HR Abu Daud dan Hakim serta dibenarkan
olehnya serta disetujui oleh Zahabi.
[16] HR Ibnu Khuzaimah, Baihaqi dan Hakim
serta dibenarkan olehnya dan setujui oleh Zahabi.
[17] HR Baihaqi dengan sanad yang sahih, Ibnu
Abi Syaibah (1/82/2) dan Siraj dari jalur lain.
[18] HR Abu Daud dan Tirmidzi serta dibenarkan
olehnya dan Ibnu Mulqin (27/2). Disebutkan dalam kitab Irwa’u al-Ghalil (309)
[19] Maksudnya adalah menyibak lengan baju dan
rambut agar tidak terurai ke bawah pada waktu ruku dan sujud sebagaimanan
disebutkan dalam kitab an-Nihayah. Larangan inii tidak hanya pada waktu sholat.
Bahkan apabila sebelum masuk sholat dia melakukannya, maka menurut jumhur ulama
tidak dibolehkan. Hal ini diperkuat oleh larangan Nabi sallalloohu ‘alaihi wa
sallam pada seorang laki-laki yang menyibak rambutnya saat sujud.
[20] Maksudnya adalah menyibak lengan baju dan
rambut agar tidak terurai ke bawah pada waktu ruku atau sujud sebagaimana
disebutkan dalam kitab an-Nihayah. Larangan ini tidak hanya pada waktu sholat.
Bahkan apabila sebelum masuk sholat dia melakukannya maka menurut jumhur ulama
tidak dibolehkan. Hal ini diperkuat oleh larangan Nabi sallalloohu ‘alaihi wa
sallam pada seorang laki-laki yang menyibak rambutnya saat sujud.
[21] HR Bukhari & Abu Daud.
[22] HR Bukhari & Muslim. Desebutkan dalam
Irwa’u al-Ghalil (354)
[23] HR Muslim, Abu ‘Uwanah dan Ibnu Hibban
[24] Doa-doa ini tidak khusus dibaca pada sholat sunnah saja, melainkan
disyariatkan juga untuk sholat fardhu, karena sholat sunnah dan fardhu tidaklah
berbeda. Demikianlah menurut Imam Syafi’I, Ahmad dan Ishaq. Mereka mengatakan
bahwa doa-doa ini boleh dibaca pada waktu sholat fardhu dan sholat sunnah
sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi. Imam Thahawi juga mengatakan demikain sebagaimana
disebutkan dlam kitab Musykil al-Atsar.
Pandangan yang benar akan menguatkan hal itu. Karena dalam semua bagian sholat
telah disyariatkan adanya doa, maka sepatutnya hal itu juga berlaku disini. Hal
ini tidak sulit untuk dipahami.
[25] Tulisan ini diambil dari buku ”Biografi Syaikh Al-Albani, Mujaddin Dan Ahli
Hadits Abad Ini” karangan Mubarak bin Mahfudh Bamuallim LC. Diterbitkan oleh
Pustaka Imam Asy-Syafi’i, dalam bab ’Sunnah-Sunnah Yang Dihidupkan Oleh Imam
Al-Albani’, halaman 101.
[26] Pengertian shalawat Nabi yang paling baik
telah dikemukakan oleh Abu ‘Aliyah bahwa maksud Allooh bershalawat kepada Nabi
adalah Allooh memuji dan memuliakannya. Sedangkan maksud Malaikat bershalawat
kepada Nabi adalah mereka memohon kepada Allooh untuk memberi kedudukan terpuji
dan terhormat kepada Beliau. Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari mengemukakan pendapat yang populer tentang makna Allooh
bershalawat kepada Nabi yaitu Allooh memberi rahmat kepadanya. Pembahasan
secara mendetail telah dipaparkan oleh Ibnu Qayyim dalam kitab Jala’ul Afham.
[27] Para sahabat yang meriwayatkan shalat
witir ini tidak menyebutkan adanya
qunut. Maka kami katakan bahwa hal itu ”kadang” Beliau SAW lakukan.
Sebab bila Nabi sallalloohu ‘alaihi wa sallam selalu melakukannya, tentu para
sahabat akan meriwayatkannya. Memang hanya Ubay bin Ka’ab yang meriwayatkan hal
itu dari Nabi sallalloohu ‘alaihi wa sallam. Hal ini menunjukkan bahwa Beliau
SAW melakukannya kadang-kadang dan tidak wajib. Inilah yang menjadi pendapat
jumhur ulama. Hal ini juga diakui ahli fikih, Ibnu Hammam dalam Kitab Fathul
Qadir (1/306, dan 360). Ia menyatakan bahwa mewajibkan qunut dalam witir adalah
pendapat lemah yang tidak berdasarkan dalil yang kuat. Hal ini merupakan sikap
lapang dadanya (maksudnya Ibnu Hammam) dan tidak fanatik terhadap mazhabnya.
Sebab mazhab yang diikutinya berlawanan dengan pendapatnya ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar